SEMARANG (Pertamanews.id) – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menyambut positif kerja sama antara perseroan dengan pelaku usaha UKM dan Petani di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur yang tergabung dalam Koperasi Produsen Agro Farm, yang difasilitasi Kementerian Koperasi UKM.

Sido Muncul bersama Kementerian Koperasi UKM dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga meluncurkan Program Penguatan Rantai Pasok Usaha Mikro Komoditas Bahan Baku Jamu di Paseban Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (17/5).

Dalam acara ini, Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat yang hadir secara daring dari Semarang untuk menyambut baik penandatanganan kerja sama dengan Koperasi Agro Farm Bondowoso tentang Pasca Panen dan Pemasaran Bahan Baku Jamu.

Penandatanganan diwakili oleh Manager Pusat Penelitian Rempah Sido Muncul Bambang Supartoko dengan Ketua Koperasi Agro Farm Bondowoso Fuad Syarifi, disaksikan Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi UKM Yulius.

Kerja sama itu meliputi pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan standar mutu kualitas bahan dengan penerapan kegiatan pasca panen, serta pengelolaan ketersediaan dan pendistribusian hasil bahan yang memenuhi standar mutu Sido Muncul.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan pihaknya akan terus mencari mitra strategis di berbagai wilayah di Indonesia untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan baku jamu tradisional yang kini tren permintaan pasar internasional terus meningkat.

Menurutnya, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri untuk memenuhi permintaan pasar tersebut sehingga perlu memperbanyak jaringan khususnya para produsen bahan baku jamu yang biasanya berasal dari para petani ataupun pelaku UKM dalam wadah koperasi.

“Saya beruntung bisa bekerja sama dengan koperasi produsen Agro Farm Bondowoso ini karena kita ingin memperluas pasar ekspor. Kami juga ingin masuk pasar internasional dalam bentuk bahan baku jamu seperti ekstrak,” ujar Irwan melalui saluran Zoom dalam acara Peluncuran Program Penguatan Rantai Pasok Usaha Mikro Komoditas Bahan Baku Jamu di Kabupaten Bondowoso itu.

Irwan menambahkan pihaknya telah mempersiapkan semua keperluan termasuk pendirian pabrik bahan baku jamu tradisional yang didirikan sejak 2010 lalu yang kini sudah beroperasi. Pabrik ini menjadi salah satu yang terbesar di Asean dari sisi kapasitas produksi.

Sido Muncul, tutur Irwan, berupaya ke depan menjadikan Indonesia kembali bisa dikenal di kancah internasional sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah. Oleh sebab itu salah satu upaya untuk menjaga kestabilan pasokan bahan baku obat, perseroan perlu menjaga pasokan produk berkualitas dari para petani, pelaku UKM maupun koperasi produsen bahan baku jamu.

“Pengalaman saya kalau produk bagus itu pasti laku dan dicari orang tapi kalau produk jelek kita yang akan cari konsumen dan itu tidak ada habisnya. Maka solusi kita untuk menjaga kualitas produk adalah kita terus melakukan riset dan pengembangan,” tutur Irwan.

Irwan menuturkan, manajemen Sido Muncul bakal semakin gencar mengenjor ekspor bahan baku jamu tradisional, mengingat kebutuhan pasar terus melonjak dan target utama Negara Jepang, untuk produk rempah jenis kunyit.

“Konsumen di negara Jepang sangat tinggi, hampir semua masyarakat menggemari minuman jamu kunyit, terutama mereka yang sering merokok dan minuman alkohol, mengingat kunyit memiliki khasiat penyembuhkan sakit lever, lambung dan lainnya,” ujar Irwan.

Selama ini, lanjutnya, pasar minuman kunyit di Jepang dipasok sejumlah produsen besar, bahkan sangat dikenal produk dengan brand Ukon, meski bahan baku diperoleh dari India, Indonesia dan Negara lainya.

“Ini merupakan peluang besar bagi Sido Muncul. Bahkan kami targetkan tahun ini untuk ekspor jamu kunyit  ke negara Jepang lebih besar, dibanding ekspor ke negara lain, mengingat kualitas produk Sido Muncul lebih baik dibanding produsen lainnya,” tutur Irwan.

Usai penandatanganan kerja sama, Sido Muncul secara simbolis menyerahkan PO sebanyak 5 ton Lempuyang kepada Koperasi Agro Farm Bondowoso. Dilanjutkan dengan pengiriman perdana Lempuyang tahap awal satu ton ke Pabrik Sido Muncul, Ungaran, Semarang.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan nota kesepahaman bersama antara Sido Muncul dengan Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi UKM dalam mengembangkan rantai pasok komoditas bahan baku jamu dari petani hingga pelaku UMKM pada Desember 2022 lalu.

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM), Yulius yang meluncurkan program tersebut secara resmi mengatakan kerja sama yang terjalin antara Sido Muncul dengan koperasi produsen Agro Farm Bondowoso tersebut merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman Bersama antara Deputi Bidang Usaha Mikro dengan Perseroan yang telah ditandatangani di Jakarta pada tanggal 16 Desember 2022 lalu.

“Kerja sama yang kita bangun ini kami harapkan tidak hanya sampai sini saja. Kita ingin gandeng lebih banyak untuk pelaku usaha besar dan kecil untuk turut serta dalam pembangunan rantai pasok Industri,” ujar Yulius.

Yulius menambahkan saat ini kemitraan strategis pelaku UKM dengan usaha besar masih sangat kecil yaitu baru 7%. Sementara rasio partisipasi UKM yang masuk dalam rantai nilai global (global supply chain) baru 4,1%.

“Kemitraan antara pengusaha besar dan kecil kalau kita dorong tentu akan mampu mendongrak ekspor sehingga ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

Menurut Yulius, pelaku UKM akan memperoleh berbagai manfaat yang besar apabila bisa masuk dalam rantai pasok industri seperti peningkatan produktifitas dan peningkatan daya saing usaha. Kemudian pelaku UKM akan mendapat kepastian pasar dengan harga jual yang stabil karena adanya offtaker.

“Setelah para pelaku UMK dihubungkan ke rantai pasok atau offtaker seperti PT Sido Muncul dari sisi permodalan mereka akan semakin mudah mendapatkan akses modal seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat), termasuk dari perbankkan baik BRI dan lainnya” ujar Yulius.