SEMARANG (Pertamanews.id) – Mengambil momentum syukuran pembukaan Kedai Teh Cicih, produser film indie Sri Kusnaeni bersama sineas Komunitas Sahabat Film Semarang (KSFS) meluncurkan film bertema bahaya narkoba di kedai tersebut, selasar Pasar Bulu Kota Semarang ,pada Rabu malam 17 Januari 2024.

Film semi dokumenter bertajuk ”Starboy” tersebut disutradarai Irfan Wardana Setiawan, dengan mengambil lokasi syuting di sekitar Semarang Barat. Film bergenre drama ini layak diapresiasi karena melakukan sentuhan teknologi kekinian, misalnya tampilan screen recording dari aplikasi yang digunakan tokoh utamanya.

Acara syukuran kedai yang dipandu Rachman Pulalo itu ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh produser film Starboy, Sri Kusnaeni atau akrab disapa Teh Cicih kepada sutradara Irfan Wardana. Potongan tumpeng juga diserahkan ke Bripka Iwan Wirana, babinkamtibmas Keluran Krobokan, Semarang Barat, yang turut berperan dalam film tersebut.

Menurut Cicih, dirinya ingin memberikan ruang kreativitas dan berkarya kepada anak -anak muda di Kota Semarang melalui keberadaan kedai dan produksi film.

”Kedai mengajak anak muda di bidang kewirausahaan, sedangkan film mendorong mereka menekuni entertainment. Sambil nongki di kedai, kaum milienial ini bisa berdiskusi tentang bagaimana menjadi videografer, kameramen, fotografer, menulis skrip atau apa saja tentang dunia film,” bebernya.

Kedai Teh Cicih sendiri didesain seperti angkringan dengan konsep lesehan. Camilan yang disajikan pun menyesuaikan khas anak muda seperti jasuke, pisang bakar,roti kukus, aneka bakaran serta aneka minuman.

Jauhi Narkoba

Saat ditemui di sela-sela gala premiere kecil-kecilan itu, sutradara Starboy Irfan Wardana mengatakan, film yang baik bukan hanya sebagai tontonan tapi juga tuntunan. Pesan moral dalam Staryboy adalah bagaimana menjauhkan kita semua dari bahaya narkoba.

”Film ini menceritakan seorang anak muda yang awalnya kalem tapi jadi bertindak kriminal setelah berkenalan dengan geng starboy. Hidupnya hancur setelah kena narkoba. Sesuatu yang tak baik berakhir tak baik pula,” kata sutradara yang sudah men-direct 10-an film tersebut.

Menurut Irfan, judul sinema Starboy diambilkan dari bahasa gaul untuk merujuk menyebut pria muda yang kerap memamerkan kekayaan miliknya. Biasanya sosok starboy dikenal memiliki banyak uang hingga kuasa dalam kehidupan sosial.

Melalui tayangan video, Kapolsek Semarang Barat Kompol Andre Bachtiar Winanomo mengapresiasi upaya KSFS dalam mengkampanyekan anti-narkoba kepada generasi muda melalui karya sinematografi.

”Semoga ini bisa membantu kami dalam program penyuluhan bahaya narkoba kepada kaum muda. Laporkan ke polisi, jika kalian melihat kejahatan narkoba. Apalagi Polrestabes Semarang memiliki aplikasi Libas untuk melaporkan ke anggota kepolisian,” katanya.

Di bagian lain, Bripka Iwan yang berperan dalam film itu mengajak anak muda untuk turut memberantas narkoba. Bahaya dari zat tersebut, kata dia, adalah menimbulkan ketergantungan. ”Sekali lagi jangan coba-coba. Dampak besar penyalahgunaan narkoba adalah ketergantungan,” tegasnya.