SEMARANG (Pertamanews.id) – Untuk mengantisipasi kemungkinan genangan air dan banjir di Kota Semarang, terutama di wilayah Kecamatan Genuk, dilakukan upaya pembersihan dan pembongkaran pada penyambung jalan masuk (PJM) di Jalan Wolter Monginsidi dan Kaligawe.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menyatakan bahwa langkah-langkah antisipatif telah dipersiapkan menghadapi musim hujan.

“Persiapan ini penting karena musim hujan akan segera tiba, sudah bulan Mei, dan musim hujan akan dimulai pada Juni, Juli, dan Agustus. Oleh karena itu, pembersihan dan pembongkaran PJM di Jalan Wolter Monginsidi dan Kaligawe perlu dilakukan,” jelas Mbak Ita, sapaan akrabnya, saat dihubungi pada Senin (27/5/2024).

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Timur Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Endri Dwi Purwanto, menjelaskan bahwa ada rencana pembongkaran sebanyak 15 titik PJM di sepanjang Jalan Wolter Monginsidi.

“Pembongkaran dimulai sekitar SPBU Genuk Sari di Jalan Wolter Monginsidi, dimulai pertengahan Mei 2024. Sebelumnya, kami juga melakukan pembongkaran PJM di Gebang Anom,” ujarnya.

Tujuan dari pembongkaran ini adalah untuk normalisasi saluran, terutama karena posisi saluran terhambat oleh PJM yang menghubungkan ruko dan rumah tangga.

“PJM terlalu rendah, sehingga menghambat aliran air,” tambahnya.

Endri menyebutkan bahwa pembongkaran PJM ini adalah instruksi langsung dari Wali Kota Semarang, sebagai persiapan menghadapi banjir dan genangan air pada musim hujan.

“Pembongkaran ini juga kami manfaatkan untuk membersihkan saluran. PJM yang kami bongkar adalah yang menghambat aliran. Karena PJM tersebut sudah lama dan menumpuk sehingga terlalu tebal dan menghambat aliran,” jelasnya.

Pembongkaran PJM ini ditargetkan selesai dalam dua minggu ke depan. Pengerjaannya melibatkan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dengan koordinasi pemangku wilayah setempat.

“Kami juga melakukan pengerukan dan pembongkaran PJM di Tensindo Kaligawe. Kemudian akan dilanjutkan di PJM depan Nyonya Meneer,” tambahnya.

Camat Genuk Suroto mengatakan bahwa sosialisasi kepada masyarakat mengenai pembongkaran 15 titik PJM dan pembersihan saluran sudah dilakukan melalui RT, RW, dan kelurahan.

“Kami sudah memberitahu warga tentang tanggung jawab pemerintah terkait jalan masuk. Misalnya, jalan masuk ke perumahan warga adalah tanggung jawab pemerintah untuk membangun kembali PJM-nya,” katanya.

Suroto mengungkapkan bahwa sosialisasi hingga proses pembongkaran berjalan lancar. Namun, pembongkaran PJM di sekitar SPBU harus dilakukan secara bergantian karena akses masuk dan keluar dari SPBU.

“Kami melibatkan masyarakat dalam proses ini. Mereka harus mengizinkan jika ingin membangun PJM sendiri agar dapat terkontrol dan ada tempat untuk pengerukan saluran,” pungkasnya.