spot_img

35 Tahun Menyusuri Jalanan Jakarta, Sinta Hidayat Dedikasikan Hidup untuk Tunawisma

JAKARTA (Pertamanews.id) – Setiap Senin, selama lebih dari tiga dekade, Sinta Hidayat melangkahkan kaki ke sudut-sudut Jakarta yang jarang mendapat perhatian.

Di kampung-kampung pemulung, kawasan tunawisma, hingga komunitas masyarakat miskin perkotaan, ia hadir membawa makanan sehat, pelayanan kesehatan, dan yang terpenting, perhatian.

Bagi Sinta Hidayat, istri pemilik jamu nasional Sido Muncul Irwan Hidayat, pelayanan itu bukan sekadar kegiatan sosial. Ia menyebutnya sebagai perjalanan menemukan “Yesus yang tersamar” di tengah mereka yang miskin, terlupakan, dan sering dipandang sebelah mata.

“Yesus itu bukan jauh di surga atau di langit yang tidak bisa kita lihat. Dia ada di sekitar kita. Dia tersamar di dalam diri orang-orang miskin yang membutuhkan,” kata Sinta dalam sebuah perbincangan mengenai pelayanan yang telah dijalaninya selama lebih dari 35 tahun, baru-baru ini.

Inspirasi itu ia temukan dari spiritualitas Santo Teresa dari Kalkuta atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Teresa. Bersama sejumlah sahabat yang mengagumi karya-karya biarawati peraih Nobel Perdamaian tersebut, Sinta berusaha menghidupi ajaran tentang kasih yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

Salah satu pesan yang paling membekas baginya adalah ungkapan “Aku haus” yang diucapkan Yesus saat disalib.
“Bagi Ibu Teresa, Yesus haus akan cinta manusia. Dan kita diajak memberikan ‘air’ yang bisa melegakan dahaga itu melalui kasih kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita,” ujarnya.

Baca juga:  Kajati Jateng Made Suarnawan Tinjau Pelaksanaan SKD CPNS Kejaksaan RI 2023

Namun, perjalanan pelayanan itu tidak selalu berjalan mulus. Beberapa lokasi pelayanan yang mereka gunakan pernah dibakar oleh orang tak dikenal. Namun peristiwa tersebut tidak membuat Sinta dan rekan-rekannya berhenti.

Ia memilih berpindah tempat dan melanjutkan pelayanan di lokasi lain.

“Karena saya mencari Yesus-Yesus yang tersamar itu. Dalam melayani mereka bukan menjadi beban, tetapi persembahan dari iman saya,” tuturnya.

Semangat itu membuat pelayanan tetap berjalan hingga kini.

Setiap Senin, sekitar 15 relawan terlibat dalam berbagai kegiatan. Mereka membagikan makanan sehat, mengadakan pemeriksaan kesehatan sederhana, serta menyediakan obat-obatan gratis melalui dukungan dokter yang secara sukarela ikut melayani.

Selain itu, mereka juga mendampingi anak-anak melalui berbagai kegiatan edukatif seperti belajar kebersihan diri, menggambar, hingga aktivitas kreatif lainnya.

Bank Mini bagi Kaum Miskin

Salah satu program yang unik adalah penyimpanan tabungan bagi para pemulung dan tunawisma.
Program ini lahir dari kebutuhan sederhana. Banyak warga miskin perkotaan tidak memiliki tempat aman untuk menyimpan uang.

Sebagian bahkan hanya menyelipkan uang di saku atau pakaian yang mereka kenakan setiap hari.
Karena itu, tim Sinta membantu menyimpan uang mereka agar tidak habis digunakan untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
Saat ini, sekitar 200 orang tercatat sebagai penabung di lokasi pelayanan terbaru. Di lokasi sebelumnya, jumlahnya pernah mencapai 500 hingga 600 orang.

Baca juga:  IM3 Buka Panggung Nasional Bagi Musisi Muda di Semarang Melalui Collabonation Talent Hunt

Nilai tabungan yang disimpan pun beragam. Ada yang hanya beberapa ribu rupiah setiap minggu, tetapi ada pula yang mampu menabung hingga Rp200 ribu setiap pekan dari hasil bekerja sebagai tukang pijat.

“Kalau Lebaran biasanya kami minta mereka mengambil tabungan. Ada yang untuk pulang kampung, membantu keluarga, memperbaiki rumah, bahkan ada yang membeli kambing,” kata Sinta.

Tabungan tersebut juga kerap menjadi penyelamat ketika anggota keluarga mereka sakit atau ketika anak-anak membutuhkan biaya sekolah.

“Kalau untuk makan sehari-hari biasanya mereka masih bisa bertahan. Tapi ketika ada anggota keluarga sakit, mereka kesulitan karena tidak punya uang cadangan,” ujarnya.

Menularkan Semangat kepada Generasi Muda

Pelayanan Sinta tidak berhenti pada masyarakat miskin. Ia juga berusaha menanamkan nilai kepedulian kepada generasi muda.

Di Wisma Sahabat Yesus, Margonda, Depok, ia secara rutin mendampingi mahasiswa dari berbagai daerah untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan.

Dua kali setiap bulan, para mahasiswa diajak membagikan makanan gratis kepada masyarakat, termasuk para pengemudi ojek online yang melintas di sekitar lokasi.

Baca juga:  Pastikan Aman & Distribusi Lancar, Nana Sudjana Tinjau Gudang Logistik KPUD Surakarta

Menurut Sinta, pengalaman bertemu langsung dengan orang-orang yang berjuang keras untuk hidup sering kali mengubah cara pandang para mahasiswa.

Mereka mendengar kisah pengemudi ojek yang tetap bekerja meski mengalami keterbatasan fisik, atau pasangan suami istri yang harus bekerja bersama demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Cerita-cerita sederhana itu, kata Sinta, membantu anak-anak muda belajar bersyukur dan menghargai perjuangan orang tua mereka.

“Banyak mahasiswa yang akhirnya sadar bahwa mereka masih beruntung bisa kuliah. Mereka jadi lebih bersyukur dan lebih serius belajar,” katanya.

Kasih yang Terus Menyala

Lebih dari 35 tahun berlalu sejak langkah pelayanan itu dimulai. Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk penolakan dan intimidasi, Sinta tetap memilih hadir setiap Senin untuk mereka yang membutuhkan.

Baginya, pelayanan bukan tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk melihat martabat manusia dalam diri setiap orang.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, ketika banyak orang berlalu tanpa sempat menoleh, Sinta Hidayat terus berjalan mencari “Yesus yang tersamar”—dalam diri pemulung, pengemis, tunawisma, dan siapa saja yang membutuhkan uluran kasih.

Sebuah pelayanan sederhana yang membuktikan bahwa cinta dapat tetap menyala, bahkan setelah lebih dari tiga dekade.

Berita Terkait

spot_img
spot_img
spot_img

Berita Terkini