spot_img

Dulu Raih Emas SEA Games, Kini Airlangga Ardianza Sukses Bangun Bisnis Sepatu Roda Bersama JNE

SEMARANG (Pertamanews.id) – Berawal dari bonus medali emas ajang Southeast Asian Games, Airlangga Ardianza sukses membangun bisnis sepatu roda lokal Ardianz yang kini dipakai ribuan atlet dan komunitas di berbagai daerah Indonesia.

Di balik pertumbuhan usahanya, peran jasa logistik, khususnya JNE, menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis yang telah dirintis sejak 2012.

Airlangga bukan sosok baru di dunia sepatu roda. Pria asal Semarang itu merupakan mantan atlet nasional yang pernah mempersembahkan medali emas untuk Indonesia pada SEA Games 2011.

Namun, selepas meraih prestasi, ia justru melihat persoalan lain dalam olahraga yang membesarkan namanya: mahalnya harga perlengkapan bagi atlet muda.

“Waktu itu harga sepatu roda mahal, di atas Rp1 juta bahkan sampai Rp2 juta lebih. Saya berpikir bagaimana anak-anak tetap bisa jadi atlet dengan perlengkapan yang terjangkau,” ujar Airlangga saat ditemui di kediamannya yang kini juga difungsikan sebagai gudang usaha, belum lama ini.

Berangkat dari keresahan tersebut, Airlangga mulai bereksperimen memodifikasi sepatu roda berbahan plastik murah dengan mengganti roda, bearing, hingga spesifikasi tertentu agar layak digunakan latihan dan kompetisi.

Dari situ lahir ide membangun merek sendiri bernama Ardianz, yang diambil dari nama belakangnya, Ardianza.

Baca juga:  Ferry Wawan Cahyono Ucapkan Selamat HUT Golkar ke-60, Kebangkitan Baru untuk Rakyat Indonesia

Usaha tersebut mulai dirintis pada 2012 bersamaan dengan berdirinya klub dan sekolah sepatu roda yang ia bangun. Produk awal dipakai oleh atlet binaannya sendiri.

Hasilnya tak disangka. Klub binaan Airlangga kerap menjuarai kompetisi hingga membuat banyak komunitas sepatu roda lain penasaran dengan perlengkapan yang digunakan.

“Awalnya dipakai internal klub. Karena sering juara, klub lain mulai tanya pakainya apa, akhirnya kami mulai produksi lebih banyak,” katanya.

Tak mudah membangun usaha dari nol. Airlangga mengaku modal awal bisnis berasal dari bonus SEA Games yang diterimanya sebagai atlet nasional.

Dana tersebut digunakan untuk mendatangkan puluhan set perlengkapan sepatu roda dari luar negeri.

Namun, cobaan datang di fase awal usaha ketika ia tertipu perantara impor hingga mengalami kerugian.

“Pernah ketipu makelar impor, uang hilang. Tapi akhirnya barang ditemukan di Jakarta dan kita tebus lagi,” ungkapnya.

Persaingan bisnis juga menjadi tantangan tersendiri. Saat merek yang sebelumnya dijual mulai masuk ke ritel besar dengan harga lebih murah, Airlangga memutuskan fokus membangun merek sendiri yang memiliki identitas dan kekuatan hukum.

Baca juga:  Rapimda MKGR Jateng Tegaskan Dukungan untuk Adies Kadir sebagai Ketua Umum DPP

Keputusan itu menjadi titik balik. Produk Ardianz berkembang menjadi perlengkapan sepatu roda dari level pemula hingga atlet kompetitif.

Desain dilakukan langsung oleh Airlangga, sementara produksi masih bekerja sama dengan sejumlah pabrik di luar negeri dengan spesifikasi yang disesuaikan untuk kebutuhan atlet Indonesia.

“Semua spesifikasi saya tes langsung ke atlet-atlet. Dari ukuran roda, posisi frame, sampai karakter kecepatannya,” jelas pria 36 tahun tersebut.

Seiring berkembangnya bisnis, kebutuhan pengiriman menjadi semakin tinggi. Airlangga mengaku telah menggunakan layanan JNE sejak awal membangun usaha karena aksesnya yang mudah dan pelayanan yang dinilai mendukung pelaku UMKM.

Ia mengenal JNE dari outlet di kawasan Sultan Agung, Semarang. Dari sana, ia mulai memanfaatkan layanan member usaha dengan sistem pembayaran bulanan dan layanan penjemputan paket (pickup service).

“Dulu kenalnya karena dekat. Terus ditawari sistem member, pengiriman bisa direkap per bulan, ada potongan juga,” katanya.

Kini, pengiriman produk dilakukan rutin dua hingga tiga kali dalam sepekan ke berbagai wilayah Indonesia, mulai Jakarta, Kalimantan, hingga Papua.

Bahkan untuk pengiriman skala besar, Airlangga memanfaatkan layanan kargo.
Menurutnya, pelayanan menjadi faktor utama tetap bertahan menggunakan JNE di tengah banyaknya pilihan ekspedisi.

Baca juga:  Jemaah Haji Mulai Diberangkatkan, Waket DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono Minta Jamaah Prioritaskan Kesehatan

“Dulu awal-awal belum paham packing. Di JNE dibantu wrapping, dibantu packing juga. Hal kecil begitu menurut saya sangat membantu,” ujarnya.

Tak hanya bisnis sepatu roda, saat pandemi Covid-19, jasa pengiriman juga membantu menopang usaha jahit milik istrinya yang beralih memproduksi masker.

Perjalanan bisnis Ardianz kini terus berkembang. Rumah keluarga yang dulu menjadi tempat tinggal kini disulap menjadi gudang penyimpanan produk sekaligus lokasi pembinaan atlet muda.

Airlangga bahkan menyediakan tempat tinggal sederhana bagi atlet binaannya yang menjalani latihan di Semarang.

Meski sibuk menjalankan usaha, ia tetap aktif membina atlet sepatu roda dan terlibat dalam pembinaan olahraga di Jawa Tengah. Tahun lalu, ia dipercaya membawa tim Indonesia berlaga di Korea Selatan.

Baginya, bisnis ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi bentuk kepedulian agar olahraga sepatu roda tetap berkembang dan bisa dijangkau lebih banyak anak-anak Indonesia.

“Kalau saya, yang penting olahraga ini tetap hidup. Anak-anak bisa punya kesempatan jadi atlet tanpa harus terkendala alat yang mahal,” tutupnya.***

Berita Terkait

spot_img
spot_img
spot_img

Berita Terkini