spot_img

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Industri, Mahasiswa Informatika UPGRIS Ciptakan SIPADMA untuk Deteksi Dini Kebocoran Air

SEMARANG (Pertamanews.id) – Praktik Kerja Lapangan (PKL) tidak hanya menjadi sarana memenuhi kewajiban akademik bagi mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), tetapi juga melahirkan inovasi yang menjawab kebutuhan dunia industri. Hal itu dibuktikan oleh *Laras Wulansari, mahasiswa Program Studi Informatika Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) UPGRIS, yang berhasil mengembangkan SIPADMA (Sistem Deteksi Anomali Pemakaian Air) saat menjalani PKL di PDAM Tirta Moedal Kota Semarang Cabang Semarang Timur.

SIPADMA merupakan sistem berbasis Machine Learning yang dirancang untuk mendeteksi secara dini potensi kebocoran pipa, ketidakwajaran pemakaian air, hingga indikasi kesalahan pencatatan meter pelanggan secara otomatis. Inovasi ini diharapkan mampu membantu meningkatkan efektivitas pelayanan sekaligus mempermudah proses pengawasan penggunaan air.

Menurut Laras, pengalaman PKL menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam menyelesaikan persoalan nyata di lapangan. Setelah melakukan observasi dan berdiskusi dengan pegawai PDAM Tirta Moedal, ia menemukan bahwa proses identifikasi anomali penggunaan air masih dilakukan secara manual, sehingga membutuhkan waktu cukup lama dan berpotensi menghambat penanganan.

Baca juga:  Midea Indonesia Beri Kesempatan Costumer Setianya Nonton Langsung Pertandingan Manchester City

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Laras mengembangkan SIPADMA menggunakan bahasa pemrograman Python dengan framework Flask. Sistem ini memanfaatkan metode Anomaly Detection melalui pendekatan Z-Score yang dipadukan dengan rule-based scoring untuk mengenali pola konsumsi air yang menyimpang dari kondisi normal. Melalui pendekatan tersebut, petugas dapat lebih cepat mengidentifikasi pelanggan yang memerlukan tindak lanjut dibandingkan dengan metode pemeriksaan konvensional.

Tak hanya mengedepankan kecanggihan algoritma, Laras juga merancang antarmuka yang sederhana dan mudah digunakan. SIPADMA dilengkapi dengan berbagai fitur, seperti dashboard interaktif, unggah data pelanggan, deteksi anomali otomatis, filter berdasarkan tingkat risiko, riwayat pemakaian pelanggan, hingga ekspor laporan dalam format Excel. Seluruh fitur tersebut dirancang untuk mempercepat proses analisis data secara lebih akurat, efisien, dan terstruktur.

Hasil implementasi menunjukkan performa yang menjanjikan. SIPADMA berhasil menganalisis 3.996 data rekening pelanggan yang mencakup 666 pelanggan selama periode September 2025 hingga Februari 2026. Dari hasil analisis tersebut, sistem mendeteksi 163 rekening atau sekitar 4,1 persen yang terindikasi mengalami anomali. Sebanyak 147 rekening di antaranya dikategorikan memiliki tingkat risiko dan direkomendasikan untuk dilakukan verifikasi lapangan, sehingga petugas dapat memprioritaskan lokasi inspeksi secara lebih efektif.

Baca juga:  KAI Daop 4 Semarang Ukir Prestasi, Sabet Dua Penghargaan Bergengsi Sektor Transportasi

Laras mengaku pengembangan SIPADMA memberikan pengalaman yang sangat berharga. Selain meningkatkan kompetensi di bidang Artificial Intelligence, Machine Learning, dan pengembangan perangkat lunak, ia juga belajar memahami kebutuhan pengguna serta pentingnya menghadirkan solusi yang benar-benar dapat diterapkan di lingkungan kerja.

“Melalui proyek ini saya belajar bahwa teknologi bukan hanya tentang membuat aplikasi, tetapi bagaimana solusi yang dikembangkan benar-benar mampu membantu menyelesaikan permasalahan di lapangan. Pengalaman ini membuat saya semakin memahami pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan industri,” ujar Laras.

Ketua Program Studi Informatika Fakultas Teknik dan Informatika UPGRIS, Bambang Agus Herlambang, S.Kom., M.Kom., mengapresiasi keberhasilan tersebut. Menurutnya, karya Laras menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi mitra industri.

Baca juga:  Lewat Potensi Desa Wisata, Ferry Wawan Cahyono Ajak Tingkatkan Perekonomian Daerah

“Kami selalu mendorong mahasiswa menjadikan kegiatan magang sebagai ruang untuk berkarya dan berinovasi. SIPADMA membuktikan bahwa mahasiswa Informatika UPGRIS mampu mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan menjadi solusi nyata yang memberikan nilai tambah bagi dunia industri maupun pelayanan publik,” katanya.

Keberhasilan pengembangan SIPADMA menjadi salah satu wujud komitmen Program Studi Informatika FTI UPGRIS dalam mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat. Melalui pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi dengan berbagai institusi, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Komitmen tersebut akan terus diperkuat melalui sinergi berkelanjutan dengan dunia industri, sehingga semakin banyak inovasi karya mahasiswa yang lahir sebagai solusi atas berbagai tantangan di era transformasi digital.

Berita Terkait

spot_img
spot_img
spot_img

Berita Terkini