KENDAL (Pertamanews.id) – Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) melakukan validasi alat pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak karya tim peneliti Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang di Kendal, Sabtu (8/8) lalu. Validasi tersebut menjadi tahapan penentu sebelum alat masuk ke produksi terbatas sebagai produk komersial awal.
Kegiatan validasi dihadiri Akhmad Soleh dari ABMI bersama tim peneliti UDINUS yang diketuai Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom, MT, dengan anggota Dr. Sari Ayu Wulandari, ST, M.Eng dan Ir. Dedi Nurcipto, MT, IPM, ASEAN Eng. Pengujian di lahan lebih berfokus pada kinerja teknis alat. Sementara itu, validasi dari asosiasi komoditas melihat apakah alat tersebut sesuai dengan kebutuhan calon pengguna, termasuk petani di luar wilayah penelitian. Bawang merah sendiri menjadi salah satu komoditas yang cukup rentan terhadap serangan hama penggorok daun (Liriomyza spp.). Karena itu, masukan dari asosiasi petani bawang merah menjadi bagian penting dalam melihat peluang penggunaan alat tersebut di wilayah lain.
Akhmad Soleh mengatakan alat tersebut dibuat untuk menjawab keluhan petani bawang merah yang selama ini masih bergantung pada penyemprotan pestisida. Di sisi lain, biaya penggunaan pestisida terus meningkat, sementara hasil yang didapat dinilai semakin kurang efektif.

Sebelumnya Diterapkan di Lahan Wonosobo
Validasi di Kendal merupakan kelanjutan dari implementasi alat di lahan mitra yang berlangsung 25 hingga 27 Juli 2026 di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Implementasi dilakukan bersama UD. HR Pakuwojo, Desa Tieng, Kejajar, yang dikelola Zaenu Rohmad.
Rangkaian kegiatan itu merupakan pelaksanaan tahun kedua Program Hilirisasi Riset Prioritas – SINERGI. Penelitian dibiayai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, sesuai Kontrak Pelaksanaan Program Penelitian Nomor 009/LL6/AL.04/HRP-PMP/2026.
Pada tahun kedua, kegiatan mencakup optimalisasi purwarupa, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penggunaan dan perawatan alat, serta uji lapangan tahap kedua. Uji tersebut melibatkan 35 petani di tujuh lokasi lahan hortikultura sayuran umbi di Kejajar, mencakup komoditas kentang, bawang merah, dan bawang putih.
Uji tahap kedua dirancang pada musim tanam yang berbeda dari pengujian sebelumnya, dengan membandingkan hasil pada lahan yang menggunakan alat dan lahan kontrol.
Menekan Kerugian 30 sampai 50 Persen
Rindra Yusianto menjelaskan, serangan hama penggorok daun menyempitkan area fotosintesis dan menimbulkan stres fisiologis pada tanaman. Kerugian hasil panen berkisar antara 30 hingga 50 persen, bahkan dapat mencapai 100 persen pada musim tertentu bila tidak ada tindakan pengendalian.
Kerugian sebesar itu berdampak langsung pada sektor yang nilainya tidak kecil. Berdasarkan data 2024, subsektor hortikultura sayuran umbi menyumbang 22,9 persen dari total nilai produksi pertanian nasional, dengan nilai produksi lebih dari Rp 300 triliun.
“Selama ini petani sangat bergantung pada pestisida kimia. Dampaknya bukan hanya residu pada hasil panen, tetapi juga resistensi hama dan kerusakan lingkungan. Alat ini kami rancang agar hama bisa ditekan tanpa bahan kimia sama sekali,” ujar Rindra.
Ia menambahkan, penyemprotan berlebih juga berbenturan dengan standar Good Agricultural Practices (GAP) yang kini menjadi syarat akses pasar ekspor.
Alat bekerja melalui corong penyedot berbentuk kerucut yang dilengkapi pipa 10 sentimeter dan lampu LED SMD putih sebagai pemikat. Empat sensor gerak ultrasonik pada pangkal corong mendeteksi pergerakan hama, lalu mengaktifkan dinamo 12 volt DC berkekuatan 10 ampere dengan kecepatan putar minimal 1.000 RPM. Baling-baling kipas aluminium menyedot hama masuk ke kotak penampung.
Karena hanya aktif saat hama terdeteksi, alat ini lebih hemat energi dan selektif dibandingkan perangkap cahaya konvensional yang menyala terus-menerus.
Fabrikasi Digarap UMKM Logam Wonosobo
Skema hilirisasi alat dirancang melalui kemitraan dengan UMKM logam di Wonosobo yang akan menangani fabrikasi casing dan sistem mekanik. Pola ini dipilih agar produksi alat menumbuhkan rantai pasok lokal di sekitar sentra hortikultura, bukan berhenti sebagai kegiatan riset kampus.
Desain alat disiapkan agar dapat diproduksi dengan biaya terjangkau dan mudah dioperasikan petani, sehingga masuk kategori teknologi tepat guna.
Saat ini Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) alat berada pada level 7, yakni purwarupa telah teruji di lingkungan operasional nyata dengan kinerja stabil. Melalui penelitian tahun kedua, TKT ditargetkan naik ke level 8, yaitu teknologi terbukti bekerja andal oleh pengguna akhir dan siap diproduksi secara terbatas.
Luaran yang disiapkan meliputi paten sederhana dengan status granted, model kemitraan hilirisasi berbasis pemberdayaan UMKM, serta naskah policy brief untuk pemerintah daerah dan Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo.
Selain UD. HR Pakuwojo, penelitian ini menggandeng Kelompok Tani Enggal Makmur Desa Kayugiyang dan Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo sebagai mitra berdasarkan perjanjian kerja sama.
Zaenu Rohmad menilai alat tersebut membantu petani yang kesulitan mengamati populasi hama secara manual, terutama ketika fluktuasi suhu dan kelembapan akibat perubahan iklim membuat serangan sulit diprediksi.
Penelitian ini diharapkan memperkuat ekosistem hilirisasi teknologi pertanian dalam negeri sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional melalui peningkatan produktivitas hortikultura lokal, termasuk mengurangi ketergantungan pada produk hortikultura impor.***



