spot_img
Beranda blog

Temani Waktu Setelah Kerja, Kongsi Rasa ARTOTEL Harmoni Jakarta Hadirkan “The Late Shift”

0

JAKARTA (Pertamanews.id) – ARTOTEL Harmoni Jakarta melalui Kongsi Rasa menghadirkan “The Late Shift”, campaign kuliner yang menawarkan pilihan hidangan dan minuman untuk menemani masyarakat menikmati waktu setelah aktivitas sehari-hari berakhir.

Campaign ini menyasar berbagai momen, mulai dari berkumpul bersama teman setelah jam kerja, menikmati hidangan di malam hari, hingga bersantai sembari berbincang sebelum mengakhiri aktivitas.

Melalui “The Late Shift”, Kongsi Rasa menghadirkan sejumlah menu yang memadukan comfort food dengan kreasi bercita rasa eksploratif.

Beberapa pilihan menu yang tersedia antara lain Grilled Chicken Ramen dengan harga Rp75.000++, Congee with Homemade Chili Oil Rp50.000++, dan GulTik Rp95.000++.

Sementara untuk pilihan minuman, pengunjung dapat menikmati Apple Truffle seharga Rp128.000++, Bird in The Jungle dan Black Tee masing-masing Rp100.000++, Spy Spice Rp100.000++, serta Crush Koffie & Cream Rp45.000++.

General Manager ARTOTEL Harmoni Jakarta, Arbiter Gerhard, mengatakan “The Late Shift” dihadirkan untuk memberikan ruang bagi masyarakat menikmati waktu setelah aktivitas sehari-hari selesai.

“Melalui The Late Shift, kami ingin menghadirkan tempat yang nyaman untuk menikmati momen setelah hari selesai, baik untuk berkumpul bersama teman, menikmati hidangan, maupun sekadar memberikan waktu untuk diri sendiri. Karena setiap malam punya ceritanya sendiri,” ujar Arbiter.

Campaign “The Late Shift” dapat dinikmati masyarakat di Kongsi Rasa, ARTOTEL Harmoni Jakarta, hingga 20 September 2026.

Informasi lebih lanjut mengenai pilihan menu dan pemesanan dapat diperoleh melalui WhatsApp di nomor 0819 3285 6111.

PDSI Didorong Jadi Induk Bisnis Drilling dalam Streamlining Pertamina

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Serikat Pekerja Pertamina Persada IV (SP Persada IV) mendorong agar rencana streamlining bisnis drilling Pertamina diarahkan untuk memperkuat PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) sebagai induk bisnis drilling nasional.

SP Persada IV menilai langkah tersebut penting untuk memastikan bisnis strategis di sektor pengeboran tetap berada dalam penguasaan negara sekaligus memperkuat kapasitas nasional dalam mendukung kegiatan hulu migas.

Ketua SP Persada IV, Solikin, mengatakan PDSI memiliki pengalaman dan kompetensi yang telah dibangun selama puluhan tahun. Kapasitas tersebut mencakup operasi pengeboran, teknologi dan engineering, standar keselamatan, hingga pengembangan sumber daya manusia.

“PDSI memiliki pengalaman dan kompetensi yang dibangun dalam waktu panjang. Kemampuan tersebut merupakan aset strategis negara yang harus dijaga. Ketika pemerintah melakukan streamlining, orientasinya jangan hanya menyederhanakan struktur perusahaan, tetapi juga memastikan kemampuan strategis yang sudah dimiliki negara semakin kuat,” ujar Solikin.

Menurutnya, streamlining tetap dapat dilakukan sepanjang mampu menciptakan organisasi yang lebih efektif tanpa mengurangi penguasaan negara terhadap bisnis strategis.

Karena itu, SP Persada IV mendorong PDSI menjadi induk dalam konsolidasi bisnis drilling Pertamina. Dengan skema tersebut, integrasi dan efisiensi bisnis dapat dilakukan sekaligus mempertahankan kendali negara terhadap kemampuan strategis di bidang pengeboran.

Sorotan SP Persada IV terutama muncul terhadap opsi yang menempatkan PDSI di bawah PT Elnusa Tbk. Sebagai perusahaan terbuka dengan struktur kepemilikan yang tidak sepenuhnya berada di tangan negara, posisi Elnusa sebagai induk bisnis drilling dinilai perlu dikaji secara menyeluruh.

Solikin mengatakan perubahan struktur tersebut berpotensi mempengaruhi ruang kendali negara terhadap aset, investasi, teknologi, serta arah pengembangan kemampuan drilling nasional.

“Yang perlu kita lihat bukan hanya siapa yang menjadi induk secara administratif, tetapi bagaimana struktur tersebut mempengaruhi penguasaan dan kendali negara atas kemampuan drilling nasional. Ketika bisnis strategis bagi hulu migas ditempatkan di bawah perusahaan yang tidak 100 persen dikuasai negara, tentu ada konsekuensi strategis yang harus dikaji secara serius,” tegasnya.

Ia menambahkan, kemandirian energi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi migas. Kemampuan nasional dalam menguasai rantai pendukung produksi juga menjadi bagian penting dari ketahanan energi.

Atas dasar itu, konsolidasi bisnis drilling dinilai perlu diarahkan pada penguatan PDSI sebagai entitas yang sepenuhnya berada dalam penguasaan negara.

“Jika konsolidasi memang diperlukan, PDSI dapat diperkuat sebagai induk bisnis drilling. Dengan begitu, efisiensi dan integrasi bisnis tetap dapat dicapai tanpa mengurangi posisi negara dalam mengendalikan kemampuan strategis di bidang pengeboran,” katanya.

SP Persada IV berharap setiap opsi streamlining dikaji secara komprehensif. Kajian tersebut dinilai perlu mempertimbangkan efisiensi korporasi, penguasaan negara, kepentingan strategis sektor energi, keberlanjutan kompetensi nasional, serta pengembangan sumber daya manusia.

“Efisiensi tetap penting, tetapi jangan sampai penyederhanaan struktur justru mengurangi kapasitas strategis yang telah dibangun negara selama bertahun-tahun. Kami berharap streamlining menghasilkan PDSI yang lebih kuat, terintegrasi, dan mampu menjadi tulang punggung kemampuan drilling nasional,” pungkas Solikin.

SP Persada IV menilai penataan bisnis Pertamina dapat menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional dengan memastikan aset, teknologi, serta kompetensi strategis di sektor drilling tetap berada dalam kendali negara.***

Lebih dari 50 Varian, Joyday Dorong Pertumbuhan Bisnis Es Krim lewat Jaringan Distributor

0

JAKARTA (Pertamanews.id) — PT Yili Indonesia Dairy terus memperkuat pertumbuhan bisnis es krim Joyday di Indonesia dengan memperluas kolaborasi bersama distributor dan mitra penjualan.

Strategi tersebut salah satunya diwujudkan melalui program apresiasi bagi mitra wisata yang berhasil mencapai target penjualan Joyday. Dua destinasi wisata di Jawa Tengah, yakni Desa Wisata Lembah Asri Serang dan Purbasari Pancuran Mas, menjadi penerima apresiasi atas pencapaian tersebut.

Desa Wisata Lembah Asri Serang mendapatkan apresiasi berupa satu unit Daihatsu Gran Max. Sementara Purbasari Pancuran Mas memperoleh satu unit Mitsubishi Xpander.

Program apresiasi tersebut diberikan oleh distributor sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian target sekaligus upaya memperkuat hubungan jangka panjang dengan mitra penjualan.

Presiden Direktur PT Yili Indonesia Dairy, Yu Miao, mengatakan keberadaan distributor dan mitra penjualan menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan Joyday di tengah persaingan pasar es krim Indonesia.

“Bagi YILI, distributor dan mitra penjualan memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan Joyday di Indonesia. Mereka bukan hanya membantu memperluas jangkauan produk, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang memastikan Joyday dapat hadir di berbagai momen keseharian konsumen, termasuk saat mereka menikmati waktu bersama keluarga di tempat wisata,” ujar Yu Miao.

Menurut dia, apresiasi terhadap mitra juga menjadi bentuk penghargaan atas kontribusi dan komitmen yang diberikan dalam mendukung pertumbuhan Joyday.

“Kami mengapresiasi inisiatif distributor dalam memberikan penghargaan kepada mitra yang telah menunjukkan pencapaian baik dan komitmen kuat dalam mendukung pertumbuhan Joyday,” katanya.

Direktur PT Sinergi Makin Maju, Stefany Dharmawan, mengatakan kedua mitra wisata tersebut dinilai berhasil memenuhi target yang telah ditetapkan.

PT Sinergi Makin Maju merupakan distributor resmi produk es krim Joyday untuk wilayah Banyumas dan sekitarnya.

“Kami memberikan apresiasi kepada Desa Wisata Lembah Asri Serang dan Purbasari Pancuran Mas karena keduanya berhasil mencapai target yang telah diberikan. Bagi kami, pencapaian ini menunjukkan komitmen yang kuat dari para mitra dalam menghadirkan Joyday kepada konsumen,” ujar Stefany.

Ia menambahkan, program tersebut sekaligus menjadi bentuk terima kasih kepada mitra atas kerja sama yang telah terjalin.

“Program apresiasi ini juga menjadi bentuk terima kasih kami atas kerja sama yang telah berjalan dengan baik,” katanya.

Bagi mitra wisata, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan operasional di kawasan wisata.

Owner Purbasari Pancuran Mas, Junjung, mengatakan satu unit Mitsubishi Xpander yang diterima diharapkan dapat menunjang aktivitas operasional sekaligus memperkuat kerja sama dengan distributor dan Joyday.

“Kami berterima kasih atas apresiasi yang diberikan melalui program ini. Penghargaan berupa 1 unit Mitsubishi Xpander tentu menjadi dukungan yang sangat bermanfaat bagi kami, terutama dalam menunjang kebutuhan operasional di Purbasari Pancuran Mas,” ujarnya.

Menurut Junjung, dukungan tersebut juga menjadi motivasi untuk terus memberikan pengalaman terbaik kepada pengunjung.

“Kerja sama ini juga menjadi dorongan bagi kami untuk terus memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung dan mendukung pertumbuhan Joyday di kawasan wisata kami,” katanya.

Kolaborasi antara produsen, distributor, dan mitra penjualan dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas penetrasi Joyday, terutama melalui kanal penjualan yang dekat dengan aktivitas konsumen.

Selain destinasi wisata, Joyday juga terus memperluas ketersediaan produknya melalui pasar modern, pasar tradisional, serta berbagai titik penjualan lainnya.

Saat ini, Joyday disebut telah menjangkau konsumen di lebih dari 400 kota yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Produk yang ditawarkan juga terus berkembang dengan portofolio lebih dari 50 varian dalam tujuh kategori.

Dengan jaringan distribusi yang semakin luas dan penguatan kolaborasi bersama mitra, Yili Indonesia Dairy optimistis Joyday dapat mempertahankan pertumbuhan di pasar es krim nasional.

Ke depan, perusahaan menilai sinergi dengan distributor dan mitra penjualan akan tetap menjadi bagian penting dalam mendekatkan produk kepada konsumen sekaligus memperkuat posisi Joyday di berbagai wilayah Indonesia.

Dukung Pengembangan 59.990 SR Jargas di Surabaya dan Gresik, PGN Perluas Edukasi Gas Bumi melalui City Gas Tour 2026

0

SURABAYA (Pertamanews.id) – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) kembali menggelar City Gas Tour 2026 di Kota Lama Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PGN memperluas edukasi mengenai pemanfaatan gas bumi sekaligus mendorong masyarakat menggunakan energi yang lebih praktis, aman, dan ramah lingkungan.

City Gas Tour di Surabaya sekaligus mendukung upaya PGN dalam memperluas jaringan gas bumi (jargas). PGN menargetkan pembangunan jargas baru yang dapat melayani sekitar 59.990 sambungan rumah (SR) di Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik pada periode 2025–2026.

Setelah sebelumnya digelar di Sidoarjo dan Probolinggo, City Gas Tour 2026 di Surabaya diramaikan dengan berbagai kegiatan, mulai dari Fun Run, Pound Fit, lomba joget India, hingga bazar makanan. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga dan komunitas yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

General Manager PGN Sales and Operation Region (SOR) III, Hedi Hedianto, mengatakan bahwa City Gas Tour menjadi salah satu upaya PGN untuk terus memperkenalkan GasKita kepada masyarakat.

“City Gas Tour adalah ikhtiar kami untuk terus mempromosikan dan mengenalkan GasKita kepada masyarakat. GasKita merupakan penyaluran gas bumi melalui pipa untuk rumah tangga di perumahan-perumahan dan usaha kecil yang ada di wilayah operasional PGN,” kata Hedi.

Hedi berharap kehadiran City Gas Tour dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gas bumi sebagai salah satu pilihan energi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Gas bumi adalah energi bersih yang tersedia 24 jam. Energi ini berasal dari bumi Indonesia sendiri, tidak impor, dan mudah-mudahan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Surabaya maupun wilayah lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Area Head PGN Surabaya, Arief Nurrachman, menambahkan bahwa edukasi dalam City Gas Tour tidak hanya mengenai pemanfaatan gas bumi untuk rumah tangga, sektor komersial, UMKM, hingga industri, tetapi juga mencakup aspek keamanan dan keselamatan dalam penggunaan gas bumi. Selain itu, PGN mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga infrastruktur gas bumi yang berada di lingkungan sekitar.

Arief mengungkapkan bahwa saat ini jumlah pengguna gas bumi di Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik mencapai sekitar 61.000 pelanggan. Jumlah tersebut mencakup pelanggan rumah tangga, komersial, maupun industri.

Pembangunan jaringan gas bumi dilakukan dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Kota Surabaya serta para pemangku kepentingan terkait. PGN juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah yang menjadi sasaran pembangunan jaringan.

“Kami berharap seluruh masyarakat Kota Surabaya bisa menyambut gembira proses pengembangan jargas dan dapat berlangganan gas PGN. Mengingat gas bumi merupakan energi bersih, ramah lingkungan, efektif, dan efisien,” ujar Arief.

Untuk tahun ini, pembangunan jaringan gas bumi menyasar sejumlah wilayah di Surabaya, meliputi Surabaya Timur, Surabaya Tengah, Surabaya Barat, serta sebagian wilayah Surabaya Utara.

Antusiasme masyarakat terhadap rencana perluasan jaringan tersebut juga cukup tinggi. Hingga Agustus 2026, PGN mencatat telah menerima sekitar 36.000 formulir minat berlangganan atau permintaan pemasangan jaringan gas bumi dari masyarakat.

Bagi masyarakat yang telah menggunakan gas bumi, kemudahan dan kepraktisan menjadi salah satu alasan memilih energi tersebut.

Sindy Wahyudi, warga Jojoran, Surabaya, yang hadir dalam kegiatan City Gas Tour di Kota Lama Surabaya, mengaku telah menggunakan gas bumi selama sekitar satu tahun. Menurutnya, penggunaan gas bumi membuat aktivitas memasak menjadi lebih praktis karena tidak perlu khawatir kehabisan gas.

“Kami merasakan manfaat dari penggunaan gas bumi, lebih murah dan praktis. Kami tidak lagi mengalami kebingungan karena kehabisan gas, terutama kalau malam hari. Selain itu, lebih safety,” ujar Sindy.

Ia juga mengatakan bahwa selama menggunakan gas bumi, aliran gas di rumahnya berjalan tanpa kendala.

Pengalaman serupa disampaikan Maria, warga Rungkut Menanggal Harapan, Surabaya. Ia menilai penggunaan gas bumi memberikan kenyamanan karena praktis dan tidak merepotkan.

“Menggunakan gas bumi sangat nyaman, praktis, aman, dan ekonomis. Yang paling penting, sebagai pengguna kita tidak was-was kehabisan gas, apalagi saat malam hari,” ujarnya.

Program City Gas Tour 2026 digelar di empat wilayah di Jawa Timur, yakni Surabaya, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Probolinggo. Sidoarjo dan Probolinggo telah lebih dahulu menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan. Setelah Surabaya, rangkaian City Gas Tour 2026 akan dilanjutkan ke Bojonegoro.

Dalam pelaksanaan City Gas Tour di Surabaya, PGN juga menggandeng berbagai komunitas. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah Fun Run Night yang diikuti hampir 500 peserta dari sejumlah komunitas, termasuk komunitas Mandarin dan Bollywood.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, City Gas Tour tidak hanya menjadi sarana edukasi dan sosialisasi mengenai pemanfaatan serta keamanan gas bumi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya PGN untuk membangun kedekatan dan memperkuat kebersamaan dengan masyarakat.***

Satu Dekade Gets Premiere Semarang, Perayaan Dikemas dengan Olahraga dan Kepedulian

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Memasuki satu dekade perjalanan, Gets Premiere Semarang menggelar rangkaian kegiatan Road to 10th Anniversary dengan mengusung tema “Beyond 10”.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan 10 tahun Gets Premiere Semarang sekaligus bentuk apresiasi kepada masyarakat, tamu, partner, komunitas, serta berbagai pihak yang selama ini turut mendukung perjalanan hotel tersebut.

Sejumlah kegiatan digelar dengan mengedepankan semangat kebersamaan, kesehatan, dan gaya hidup aktif. Agenda tersebut meliputi Fun Walk 5K, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga Fun Run yang akan menjadi acara puncak perayaan ulang tahun ke-10 Gets Premiere Semarang.

Salah satu kegiatan yang telah berlangsung yakni Fun Walk 5K yang diikuti lebih dari 350 peserta dari berbagai kalangan.

Para peserta menempuh jarak sekitar 5 kilometer dengan rute yang melintasi kawasan ikonik Kota Lama Semarang. Selain menjadi kegiatan olahraga bersama, agenda tersebut juga memberikan kesempatan bagi peserta menikmati suasana kawasan heritage Kota Lama dalam suasana santai dan penuh kebersamaan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari kepedulian Gets Premiere Semarang terhadap kesehatan masyarakat sekaligus mendorong kesadaran untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat.

General Manager Gets Premiere Semarang, Rusli Arsyad, mengatakan peringatan satu dekade hotel tidak ingin hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum untuk berbagi dan tumbuh bersama masyarakat.

“Memasuki usia ke-10, kami ingin anniversary ini tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk berbagi dan tumbuh bersama. Melalui Road to 10th Anniversary, kami ingin menghadirkan kegiatan yang memberikan pengalaman positif sekaligus manfaat bagi masyarakat,” ujar Rusli.

Menurutnya, tema “Beyond 10” menjadi semangat bagi Gets Premiere Semarang untuk terus berkembang serta meningkatkan pelayanan dan pengalaman bagi para tamu.

“Tema Beyond 10 menjadi semangat bagi kami untuk terus berkembang dan memberikan pelayanan serta pengalaman yang lebih baik ke depannya,” katanya.

Rangkaian Road to 10th Anniversary selanjutnya akan ditutup dengan Fun Run sebagai acara puncak perayaan satu dekade Gets Premiere Semarang.

Kegiatan tersebut akan memadukan olahraga, hiburan, dan kebersamaan. Melalui agenda itu, Gets Premiere Semarang berharap dapat mempererat hubungan dengan masyarakat dan komunitas di Kota Semarang.

Menginjak usia satu dekade, Gets Premiere Semarang tidak hanya menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi perjalanan selama 10 tahun, tetapi juga sebagai pijakan untuk melanjutkan perjalanan dengan semangat memberikan pengalaman terbaik bagi tamu, partner, komunitas, dan masyarakat.

Semarak Haornas, MORA Group Satukan Karyawan dalam MORA Cup 2026

0

SURABAYA (Pertamanews.id) – MORA Group membuka MORA Cup 2026 sebagai ajang olahraga internal yang mempertemukan karyawan dari berbagai unit hotel dan mitra perusahaan. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026.

MORA Cup 2026 menjadi ajang olahraga internal pertama yang digelar MORA Group. Selain kompetisi, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kebersamaan, membangun relasi antarkaryawan, sekaligus menumbuhkan semangat sportivitas di lingkungan perusahaan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Welcoming Dinner di Savoria Restaurant, LAMORA Kota Lama Surabaya, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti kontingen dari MORAZEN Surabaya, MORAZEN Yogyakarta, Grand Qin Hotel Banjarbaru, Qin Hotel Banjarbaru, LAMORA Kota Lama Surabaya, LAMORA Sagan Yogyakarta, serta WIT.ID yang berada di Bandung, Jakarta, dan Surabaya sebagai mitra perusahaan MORA Group.

Para peserta datang dari sejumlah kota, yakni Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, hingga Banjarbaru. Mereka dipertemukan dalam suasana informal untuk saling mengenal dan membangun kedekatan sebelum mengikuti rangkaian pertandingan.

MORA Cup juga dirancang sebagai kegiatan yang inklusif. Seluruh karyawan mendapat kesempatan untuk berpartisipasi tanpa membedakan jabatan maupun level pekerjaan.

“Melalui MORA Cup, kami ingin mengingatkan bahwa sebuah perusahaan tidak hanya dibangun melalui target dan pencapaian bisnis, tetapi juga melalui hubungan antarmanusia yang kuat. Ketika berada di lapangan, tidak ada batasan jabatan. Kita hadir sebagai satu keluarga, membawa semangat, usaha, dan kebanggaan yang sama untuk MORA Group,” ujar Founder & CEO MORA Group, Andhy Irawan.

Pada malam pembukaan, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai alur pertandingan dan ketentuan kompetisi. MORA Cup 2026 mempertandingkan tiga cabang olahraga, yakni padel, bulu tangkis, dan catur.

Pertandingan dijadwalkan berlangsung pada 9 September 2026 di Zuper Padel Sidoarjo.
Tak hanya olahraga, suasana Welcoming Dinner turut diisi kompetisi karaoke antarkontingen. Kegiatan tersebut menjadi hiburan sekaligus ruang bagi para peserta untuk menunjukkan kreativitas dan keberanian di luar rutinitas pekerjaan.

Kompetisi karaoke menghadirkan Citra Permata, figur di industri hiburan Surabaya, sebagai juri tamu.

“Saya senang melihat sebuah perusahaan memberikan ruang bagi karyawannya untuk tampil, berekspresi, dan saling mendukung,” ungkap Citra.

Sementara itu, General Manager LAMORA Kota Lama Surabaya, Hari Wibowo, mengaku bangga dapat menjadi tuan rumah Welcoming Dinner dan menyambut seluruh kontingen MORA Cup 2026.

“Savoria menjadi meja bersama bagi keluarga besar MORA Group malam ini. Kami berharap setiap peserta merasa diterima, semakin mengenal satu sama lain, dan membawa semangat kebersamaan tersebut hingga ke arena pertandingan,” tuturnya.

Melalui MORA Cup 2026, MORA Group berharap budaya kolaborasi yang telah terbangun antarkaryawan dan antarunit semakin kuat.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi pengalaman bersama yang mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih solid, sehat, sportif, dan penuh kebersamaan.***

PWI Surakarta Dilantik, Akhmad Munir Ingatkan Wartawan Hadapi Hoaks dan Teknologi Deepfake

0

SURAKARTA (Pertamanews.id) – Suasana hangat menyelimuti The Sunan Hotel Solo, Sabtu (12/9/2026) malam. Momentum penting bagi dunia jurnalistik di Solo Raya berlangsung ketika Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, resmi melantik jajaran pengurus PWI Surakarta masa bakti 2026–2031.

Sri Hartanto dipercaya memimpin PWI Surakarta untuk periode lima tahun ke depan. Kepengurusan tersebut memiliki wilayah kerja yang mencakup kawasan Solo Raya, yakni Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Klaten, dan Boyolali.

Pelantikan turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah serta Forkopimda dari berbagai daerah di wilayah Solo Raya.

Bagi PWI Surakarta, pelantikan tersebut bukan sekadar agenda organisasi. Kota Solo memiliki tempat khusus dalam perjalanan sejarah pers Indonesia.

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir mengingatkan bahwa PWI lahir di Kota Solo pada 9 Februari 1946. Organisasi tersebut dibentuk melalui pertemuan para wartawan pejuang yang kala itu bersatu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tanggal berdirinya PWI kemudian ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional.

Menurut Munir, sejarah panjang tersebut menjadi amanah bagi PWI Surakarta untuk terus mengambil peran dalam menghadapi dinamika dunia pers yang terus berubah.

Jika pada masa lalu wartawan menghadapi tantangan dalam menyampaikan kisah perjuangan bangsa, kini tantangan pers berkembang seiring derasnya arus informasi digital.

“Jika pada masa lalu wartawan menghadapi tantangan untuk menyampaikan kisah perjuangan bangsa, kini tantangannya berkembang seiring derasnya arus informasi digital,” ujar Munir.

Di tengah derasnya informasi yang beredar dalam hitungan detik, Munir menilai pers memiliki tugas penting untuk membantu masyarakat menjadi lebih cerdas dalam menerima informasi.

Wartawan juga dituntut mampu memilah dan menyajikan informasi yang benar di tengah maraknya berita palsu, disinformasi, hingga teknologi deepfake.

“Dan juga mampu memilah informasi yang benar di tengah maraknya berita palsu, disinformasi, dan teknologi deepfake,” tegasnya.

Menjaga Marwah Profesi
Ketua PWI Surakarta Sri Hartanto menilai pelantikan pengurus baru menjadi momentum untuk memperkuat marwah dan kehormatan profesi wartawan.

Menurutnya, perubahan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi.

Informasi kini dapat berpindah dari satu platform ke platform lain hanya dalam hitungan detik. Namun, kecepatan tersebut tidak selalu berjalan beriringan dengan kebenaran informasi.

Karena itu, ia menegaskan bahwa kecepatan dalam menyampaikan berita tidak boleh mengorbankan akurasi.

Popularitas, menurut Tanto, juga tidak boleh menggeser kebenaran. Begitu pula kepentingan sesaat tidak boleh mengalahkan integritas profesi jurnalistik.

“Kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Popularitas tidak boleh menggeser kebenaran, dan kepentingan sesaat tidak boleh mengalahkan integritas profesi jurnalistik,” tegasnya.

Komitmen tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bagi pengurus PWI Surakarta dalam menjalankan organisasi selama lima tahun ke depan.

Pers sebagai Jembatan Pemerintah dan Masyarakat
Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyambut baik komitmen yang disampaikan jajaran pengurus baru PWI Surakarta.

Ia mendorong para wartawan untuk terus menghadirkan informasi yang berkualitas, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Respati menilai pers memiliki posisi strategis dalam membangun ruang publik yang sehat. Pers tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki peran dalam mencerdaskan masyarakat serta mengawal transparansi pemerintahan.

Di sisi lain, pers juga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui pemberitaan yang akurat dan berimbang, berbagai kebijakan pemerintah dapat diketahui publik. Sebaliknya, suara dan aspirasi masyarakat juga dapat tersampaikan kepada pemerintah.

Pelantikan PWI Surakarta masa bakti 2026–2031 pun menjadi awal bagi kepengurusan baru untuk melanjutkan perjalanan panjang organisasi pers di Kota Solo.

Dengan sejarah kelahiran PWI yang melekat kuat di kota tersebut, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana berita dapat disampaikan lebih cepat, tetapi bagaimana pers tetap menjadi sumber informasi yang dipercaya masyarakat di tengah derasnya arus digital.

Asosiasi Bawang Merah Indonesia Validasi Alat Pengendali Hama Karya UDINUS

0
Perwakilan Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) bersama tim peneliti Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) sedang melakukan validasi purwarupa alat pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak di Kendal, Sabtu (8/8) lalu.

KENDAL (Pertamanews.id) – Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) melakukan validasi alat pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak karya tim peneliti Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang di Kendal, Sabtu (8/8) lalu.  Validasi tersebut menjadi tahapan penentu sebelum alat masuk ke produksi terbatas sebagai produk komersial awal.

Kegiatan validasi dihadiri Akhmad Soleh dari ABMI bersama tim peneliti UDINUS yang diketuai Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom, MT, dengan anggota Dr. Sari Ayu Wulandari, ST, M.Eng dan Ir. Dedi Nurcipto, MT, IPM, ASEAN Eng. Pengujian di lahan lebih berfokus pada kinerja teknis alat. Sementara itu, validasi dari asosiasi komoditas melihat apakah alat tersebut sesuai dengan kebutuhan calon pengguna, termasuk petani di luar wilayah penelitian. Bawang merah sendiri menjadi salah satu komoditas yang cukup rentan terhadap serangan hama penggorok daun (Liriomyza spp.). Karena itu, masukan dari asosiasi petani bawang merah menjadi bagian penting dalam melihat peluang penggunaan alat tersebut di wilayah lain.

Akhmad Soleh mengatakan alat tersebut dibuat untuk menjawab keluhan petani bawang merah yang selama ini masih bergantung pada penyemprotan pestisida. Di sisi lain, biaya penggunaan pestisida terus meningkat, sementara hasil yang didapat dinilai semakin kurang efektif.

Alat pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak karya tim peneliti Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang.

Sebelumnya Diterapkan di Lahan Wonosobo 

Validasi di Kendal merupakan kelanjutan dari implementasi alat di lahan mitra yang berlangsung 25 hingga 27 Juli 2026 di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Implementasi dilakukan bersama UD. HR Pakuwojo, Desa Tieng, Kejajar, yang dikelola Zaenu Rohmad.

Rangkaian kegiatan itu merupakan pelaksanaan tahun kedua Program Hilirisasi Riset Prioritas – SINERGI. Penelitian dibiayai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, sesuai Kontrak Pelaksanaan Program Penelitian Nomor 009/LL6/AL.04/HRP-PMP/2026.

Pada tahun kedua, kegiatan mencakup optimalisasi purwarupa, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penggunaan dan perawatan alat, serta uji lapangan tahap kedua. Uji tersebut melibatkan 35 petani di tujuh lokasi lahan hortikultura sayuran umbi di Kejajar, mencakup komoditas kentang, bawang merah, dan bawang putih.

Uji tahap kedua dirancang pada musim tanam yang berbeda dari pengujian sebelumnya, dengan membandingkan hasil pada lahan yang menggunakan alat dan lahan kontrol.

Menekan Kerugian 30 sampai 50 Persen 

Rindra Yusianto menjelaskan, serangan hama penggorok daun menyempitkan area fotosintesis dan menimbulkan stres fisiologis pada tanaman. Kerugian hasil panen berkisar antara 30 hingga 50 persen, bahkan dapat mencapai 100 persen pada musim tertentu bila tidak ada tindakan pengendalian.

Kerugian sebesar itu berdampak langsung pada sektor yang nilainya tidak kecil. Berdasarkan data 2024, subsektor hortikultura sayuran umbi menyumbang 22,9 persen dari total nilai produksi pertanian nasional, dengan nilai produksi lebih dari Rp 300 triliun.

“Selama ini petani sangat bergantung pada pestisida kimia. Dampaknya bukan hanya residu pada hasil panen, tetapi juga resistensi hama dan kerusakan lingkungan. Alat ini kami rancang agar hama bisa ditekan tanpa bahan kimia sama sekali,” ujar Rindra.

Ia menambahkan, penyemprotan berlebih juga berbenturan dengan standar Good Agricultural Practices (GAP) yang kini menjadi syarat akses pasar ekspor.

Alat bekerja melalui corong penyedot berbentuk kerucut yang dilengkapi pipa 10 sentimeter dan lampu LED SMD putih sebagai pemikat. Empat sensor gerak ultrasonik pada pangkal corong mendeteksi pergerakan hama, lalu mengaktifkan dinamo 12 volt DC berkekuatan 10 ampere dengan kecepatan putar minimal 1.000 RPM. Baling-baling kipas aluminium menyedot hama masuk ke kotak penampung.

Karena hanya aktif saat hama terdeteksi, alat ini lebih hemat energi dan selektif dibandingkan perangkap cahaya konvensional yang menyala terus-menerus.

Fabrikasi Digarap UMKM Logam Wonosobo 

Skema hilirisasi alat dirancang melalui kemitraan dengan UMKM logam di Wonosobo yang akan menangani fabrikasi casing dan sistem mekanik. Pola ini dipilih agar produksi alat menumbuhkan rantai pasok lokal di sekitar sentra hortikultura, bukan berhenti sebagai kegiatan riset kampus.

Desain alat disiapkan agar dapat diproduksi dengan biaya terjangkau dan mudah dioperasikan petani, sehingga masuk kategori teknologi tepat guna.

Saat ini Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) alat berada pada level 7, yakni purwarupa telah teruji di lingkungan operasional nyata dengan kinerja stabil. Melalui penelitian tahun kedua, TKT ditargetkan naik ke level 8, yaitu teknologi terbukti bekerja andal oleh pengguna akhir dan siap diproduksi secara terbatas.

Luaran yang disiapkan meliputi paten sederhana dengan status granted, model kemitraan hilirisasi berbasis pemberdayaan UMKM, serta naskah policy brief untuk pemerintah daerah dan Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo.

Selain UD. HR Pakuwojo, penelitian ini menggandeng Kelompok Tani Enggal Makmur Desa Kayugiyang dan Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo sebagai mitra berdasarkan perjanjian kerja sama.

Zaenu Rohmad menilai alat tersebut membantu petani yang kesulitan mengamati populasi hama secara manual, terutama ketika fluktuasi suhu dan kelembapan akibat perubahan iklim membuat serangan sulit diprediksi.

Penelitian ini diharapkan memperkuat ekosistem hilirisasi teknologi pertanian dalam negeri sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional melalui peningkatan produktivitas hortikultura lokal, termasuk mengurangi ketergantungan pada produk hortikultura impor.***

Tak Kunjung Berujung, Kasus Rumah Rusak Irjen Sofyan Masuk Jalur Ombudsman

0

SEMARANG (Pertamanews.id) — Penanganan perkara dugaan perusakan rumah milik Irjen Pol Sofyan Nugroho di kawasan Puri Anjasmoro, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, kembali menjadi sorotan.

Tim kuasa hukum keluarga Irjen Sofyan, Bangkit Mahanantiyo, SH, MH, resmi mengadukan penyidik Polda Jawa Tengah dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah ke Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Pengaduan tersebut berkaitan dengan dugaan maladministrasi dalam proses penanganan perkara yang dinilai berlarut-larut, terutama menyangkut proses pengembalian berkas perkara atau P-19 antara penyidik Polda Jateng dan Kejati Jateng.

Bangkit mengatakan, pihaknya mempertanyakan alasan berkas perkara berulang kali dikembalikan, sementara tersangka berinisial Benny sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dan status tersebut telah diuji melalui jalur praperadilan.

“Terlepas dari apakah tersangka sengaja atau lalai, itu sudah masuk ranah pengadilan dan hakim yang berwenang memutus,” ujar Bangkit, di Semarang, Jumat (11/9).

Menurut dia, persoalan tersebut semestinya tidak berhenti pada perdebatan mengenai ada atau tidaknya unsur kesengajaan. Sebab, dalam perkara yang dilaporkan, terdapat sejumlah pasal yang disangkakan kepada tersangka.

Pasal yang dimaksud antara lain Pasal 200 KUHP, Pasal 201 ayat (1) KUHP, Pasal 406 KUHP, serta Pasal 46 Undang-Undang tentang Bangunan Gedung.

Kuasa hukum menyebut pemenuhan unsur pasal dalam perkara tersebut juga telah diperkuat dengan keterangan saksi dan ahli.

Selain itu, Bangkit menyoroti fakta bahwa pembangunan bangunan yang dipersoalkan disebut sebelumnya telah mendapat teguran.

“Lagipula, proses pembangunan gedung tersebut sudah sempat ditegur, sehingga sulit untuk menyebutnya sebagai kelalaian semata,” katanya.

Sebelum pengaduan ke Ombudsman, penetapan Benny sebagai tersangka telah diuji melalui mekanisme praperadilan di Pengadilan Negeri.
Permohonan praperadilan tersebut ditolak oleh majelis hakim. Dengan demikian, berdasarkan putusan praperadilan tersebut, penetapan Benny sebagai tersangka tidak dibatalkan.

Kondisi itu kemudian menjadi salah satu dasar pertanyaan pihak keluarga mengenai proses lanjutan perkara, khususnya terkait berulangnya pengembalian berkas antara penyidik dan penuntut umum.

Bangkit menilai perlu ada pemeriksaan independen untuk mengetahui titik persoalan yang menyebabkan penanganan perkara tersebut belum mencapai tahap selanjutnya.

Melalui laporan yang disampaikan kepada Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, tim kuasa hukum meminta agar proses penanganan perkara diperiksa dari sisi pelayanan publik dan administrasinya.

Ombudsman sendiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 memiliki tugas menerima laporan dugaan maladministrasi, melakukan pemeriksaan substansi, serta menindaklanjuti laporan yang masuk dalam kewenangannya.

Dalam konteks pelayanan publik, maladministrasi antara lain dapat berkaitan dengan penundaan berlarut, penyimpangan prosedur, maupun dugaan penyalahgunaan wewenang.

Atas dasar itu, pihak keluarga berharap Ombudsman dapat meminta klarifikasi dari penyidik Polda Jateng maupun JPU Kejati Jateng mengenai proses penanganan perkara tersebut.

“Yang ingin kami uji adalah sebenarnya hambatan perkara ini berada di ruang mana. Apakah di tingkat penyidikan, penuntutan, atau justru dalam proses administrasinya. Karena itu kami meminta Ombudsman melakukan pemeriksaan secara objektif,” kata Bangkit.

Kuasa hukum juga menduga terdapat indikasi abuse of power atau penyalahgunaan kewenangan. Namun, dugaan tersebut masih sebatas laporan dari pihak pengadu dan belum merupakan kesimpulan Ombudsman maupun putusan pengadilan.

Kini, tindak lanjut Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah menjadi perhatian berikutnya. Pemeriksaan lembaga tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai proses administrasi penanganan perkara serta memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan hukum dan prinsip pelayanan publik.***

PLN Tegaskan Pengembangan Energi Panas Bumi Gunung Ungaran Belum Memasuki Tahap Eksekusi

0

SEMARANG (Pertamanews.id) — PT PLN (Persero) menghormati perhatian dan aspirasi masyarakat serta Pemerintah Kabupaten Semarang terkait rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah.

PLN menyampaikan bahwa rencana pengembangan PLTP Gunung Ungaran saat ini masih berada dalam tahap perencanaan dan studi kelayakan, serta belum memasuki tahap konstruksi maupun pengeboran.

Senior Manager Perijinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP Jawa Bagian Tengah, Ferdyan Hijrah Kusuma, mengatakan proses pengembangan akan dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada hasil kajian dan ketentuan yang berlaku.

“PLN menghormati perhatian dan aspirasi masyarakat terkait rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Ungaran. Saat ini rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan belum memasuki tahap konstruksi maupun pengeboran,” ujar Ferdyan.

Menurutnya, dalam proses perencanaan, PLN bersama para pihak terkait melakukan berbagai kajian yang mencakup aspek teknis, keselamatan, lingkungan, sosial, tata ruang, perizinan, hingga pelestarian cagar budaya.

“Setiap tahapan akan mempertimbangkan hasil kajian serta ketentuan dan peraturan yang berlaku. Masukan dan aspirasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses perencanaan,” katanya.

Perhatian terhadap Sumber Air dan Lingkungan

PLN memahami bahwa keberadaan sumber air dan keberlangsungan aktivitas masyarakat merupakan perhatian penting dalam rencana pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran.

Karena itu, aspek kebutuhan air serta potensi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat menjadi bagian dari kajian yang dilakukan sebelum kegiatan memasuki tahapan berikutnya. Hasil kajian tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan dalam pemenuhan persyaratan dan perizinan lingkungan.

Pengembangan panas bumi juga memperhatikan kondisi bawah permukaan. Sebelum menentukan lokasi sumur, dilakukan penelitian geologi dan geofisika untuk memahami kondisi batuan, air, panas, serta struktur bawah permukaan sebagai salah satu dasar dalam menentukan lokasi dan arah pengeboran.

Tidak Berada di Kawasan Candi Gedong Songo

Terkait kekhawatiran mengenai keberadaan Cagar Budaya Candi Gedong Songo, PLN menyampaikan bahwa rencana titik pengeboran tidak berada pada area Candi Gedong Songo.

“Apabila nantinya kegiatan memasuki tahap eksplorasi, lokasi pengeboran akan ditentukan dengan mempertimbangkan hasil kajian teknis, ketentuan zonasi, serta aturan perlindungan cagar budaya yang berlaku,” jelas Ferdyan.

PLN juga menyampaikan bahwa Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran memiliki cakupan wilayah yang luas. Luasan WKP sebesar 29.800 hektare tidak berarti seluruh wilayah tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur PLTP.

Sementara itu, kebutuhan lahan untuk pembangunan PLTP dengan kapasitas rencana 55 MW masih menunggu hasil kajian dan analisis yang sedang dilakukan.

Terus Berkoordinasi dengan Pemerintah dan Masyarakat

PLN terus melakukan koordinasi dengan Kementerian ESDM, pemerintah daerah, para ahli, pemangku kepentingan lainnya, serta masyarakat dalam proses pengembangan PLTP Gunung Ungaran.

“PLN terbuka terhadap masukan dan aspirasi masyarakat. Kami ingin setiap proses dilakukan secara transparan dan berdasarkan kajian, dengan tetap memperhatikan keselamatan, kelestarian lingkungan, serta perlindungan warisan budaya,” tutur Ferdyan.

PLN berharap proses perencanaan dan kajian yang dilakukan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat mengenai rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran. PLN juga akan terus membuka ruang komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, serta para pemangku kepentingan lainnya, sehingga setiap tahapan pengembangan dapat berjalan dengan mempertimbangkan berbagai masukan dan kondisi di lapangan, termasuk aspek sosial, lingkungan, serta pelestarian kawasan.***