spot_img

Mahasiswa UNDIP Sulap Limbah Organik Jadi Pupuk dan Biodeodoran Kandang di Desa Tangkisan Purworejo

PURWOREJO (Pertamanews.id) – Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam menjawab persoalan lingkungan di pedesaan.

Melalui kolaborasi ilmiah lintas fakultas antara Sekolah Vokasi UNDIP dan Fakultas Teknik UNDIP, mahasiswa memperkenalkan inovasi pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk organik cair berbasis fermentasi yang juga berfungsi sebagai biodeodoran alami kandang ternak.

Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan bersama masyarakat Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tepatnya di Dasa Wisma Pare, pada Sabtu (1/2/2026) lalu.

Program tersebut menyasar kelompok dasa wisma yang selama ini aktif dalam pengelolaan lingkungan dan pertanian rumah tangga, serta berhadapan langsung dengan persoalan limbah organik dan bau tidak sedap dari kotoran ternak.

Kolaborasi ini melibatkan mahasiswa lintas fakultas UNDIP, yakni Benaya Matius Marpaung, Faizah Rahmaniyah, Muh. Raffi Djaduk Baskoro, dan Muhammad Kemal A.

Baca juga:  Gudang Tiner di Kawasan Industri Candi Semarang Terbakar

Sinergi keilmuan tersebut mengintegrasikan pendekatan sains terapan dengan kebutuhan riil masyarakat desa, khususnya dalam pengelolaan limbah organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan penggunaan alat chopper pencacah limbah organik untuk mengolah berbagai bahan baku, seperti bonggol pisang, limbah kentang, sayuran, buah-buahan, hingga singkong.

Proses pencacahan bertujuan memperkecil ukuran bahan sehingga dapat mempercepat fermentasi dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam penguraian senyawa penyebab bau kotoran ternak.

Tak hanya praktik teknis, warga juga dibekali edukasi mengenai fungsi masing-masing bahan dalam proses fermentasi. Mahasiswa menjelaskan bahwa mikroorganisme hasil fermentasi berperan meningkatkan kandungan hara pupuk sekaligus menekan pembentukan gas berbau menyengat, seperti amonia dan hidrogen sulfida, yang umum muncul dari kotoran ternak.

Aspek keselamatan turut menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Mahasiswa memperkenalkan Diamond Hazard NFPA 704 sebagai panduan keselamatan bahan, agar proses pengolahan limbah organik dapat dilakukan secara aman dan bertanggung jawab di lingkungan rumah tangga.

Baca juga:  Soal Upah Lembur Buruh Tidak Dibayar, Ganjar: Sudah Dimediasi

Produk hasil fermentasi ini diberi nama Monana, sebuah pupuk organik cair multifungsi yang dibuat dari limbah organik rumah tangga. Proses pembuatannya dijelaskan secara bertahap, mulai dari pencacahan bahan, pencampuran, hingga fermentasi selama tujuh hari hingga menghasilkan cairan berwarna cokelat kekuningan.

Produk akhir kemudian dikemas dalam botol berukuran satu liter dan dirancang agar mudah diproduksi secara mandiri oleh masyarakat.

Monana mengandung mikroorganisme aktif yang berfungsi ganda, yakni meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman serta mempercepat penguraian kotoran ternak saat diaplikasikan di kandang.

Aktivitas mikroba tersebut mampu menghambat pembusukan anaerob penyebab bau, sehingga kandang menjadi lebih bersih dan nyaman.

Baca juga:  Kejati Jateng Tahan Eks Kabag Setda Cilacap, Terlibat Transaksi Lahan Bermasalah Rp237 Miliar

Sosialisasi dilakukan secara interaktif melalui demonstrasi langsung, mulai dari pencacahan limbah, pencampuran bahan, hingga penjelasan tahapan fermentasi.

Mahasiswa juga menjelaskan cara aplikasi Monana, baik sebagai pupuk organik cair untuk tanaman maupun sebagai larutan semprot atau siram untuk mengurangi bau kotoran ternak. Penyampaian materi didukung poster edukatif, video panduan, serta buku saku praktis yang dibagikan kepada warga.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNDIP berharap masyarakat Desa Tangkisan dapat lebih mandiri dan optimal dalam mengelola limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Inovasi pupuk organik cair multifungsi ini diharapkan tidak hanya mengurangi pencemaran dan bau tidak sedap dari limbah ternak, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat berbasis sains terapan.***

Berita Terkait

spot_img
spot_img
spot_img

Berita Terkini