spot_img
Beranda blog Halaman 8

Monitoring Ramadan-Idulfitri 2026, BPH Migas Pastikan Pasokan Energi di Tarakan Aman

0

TARAKAN (Pertamanews.id) — Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melakukan monitoring ketersediaan energi selama Ramadan dan Idulfitri 2026 di Kota Tarakan.

Kegiatan ini turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, memastikan bahwa penyediaan dan distribusi energi di Tarakan berada dalam kondisi aman dan terkendali.

Ia menyebutkan, stok bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) mencukupi, serta distribusinya berjalan lancar tanpa kendala di lapangan.

“Seluruh distribusi terkonfirmasi aman dan lancar, serta masyarakat tidak mengalami kendala,” ujarnya.

Selain itu, jaringan gas kota (jargas) yang dikelola PGN saat ini telah melayani sekitar 34.145 sambungan rumah tangga di Tarakan.

Penyaluran gas dinilai berjalan baik dan mampu mendukung kebutuhan energi rumah tangga, terutama untuk memasak.

Dari sisi biaya, penggunaan jargas dinilai lebih efisien. Rata-rata pengeluaran masyarakat berkisar antara Rp25.000 hingga Rp75.000 per bulan, tergantung tingkat konsumsi.

Jika dibandingkan dengan LPG non-subsidi, biaya penggunaan jargas hanya sekitar 29 persen, sedangkan dibandingkan LPG subsidi sekitar 72 persen, sehingga memberikan penghematan yang signifikan.

Pasokan gas yang berasal dari Pertamina EP Tarakan dan Medco juga dilaporkan dalam kondisi stabil tanpa gangguan, sehingga mendukung keberlanjutan layanan jargas.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Tarakan, Ajat Jatnika, dalam kesempatan itu mengusulkan penambahan jaringan gas kota untuk sekitar 10.000 sambungan rumah tangga.

Usulan tersebut difokuskan pada dua kelurahan yang hingga kini belum terlayani jargas. Menurut Ajat, penambahan tersebut diharapkan dapat mendorong cakupan layanan jargas di Tarakan hingga mencapai 100 persen. Usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah pusat dan saat ini masih menunggu tindak lanjut.

“Diharapkan dapat direalisasikan melalui dukungan program pemerintah pusat,” katanya.

Ia juga mengapresiasi upaya seluruh pihak dalam memastikan ketersediaan energi, khususnya di wilayah yang relatif jauh dari pusat distribusi, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan energi yang merata dan berkelanjutan.

Sementara itu, General Manager Sales and Operation Region (SOR) III PGN, Hedi Hedianto, menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga keandalan penyaluran gas serta mendukung pengembangan jaringan gas kota di Tarakan sesuai kebijakan pemerintah.

“Pada prinsipnya, kami berkomitmen untuk terus mendistribusikan jargas kepada masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan monitoring tersebut, rombongan juga meninjau langsung sejumlah pelanggan PGN, di antaranya Warung Teras serta rumah tangga di RT 05 Kelurahan Karang Rejo.

Sejumlah pelanggan menyampaikan apresiasi atas distribusi gas yang dinilai berjalan dengan baik dan stabil.***

Kotta Hotel Semarang Dukung Earth Hour 2026 Dengan Aksi Nyata Dan Kolaborasi Komunitas

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Kotta Hotel Semarang memperingati Earth Hour 2026 dengan mematikan lampu selama satu jam pada Sabtu (28/3) lalu, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan global penghematan energi dan kepedulian lingkungan.

Selain aksi pemadaman lampu, Kotta Hotel Semarang juga menggelar sesi yoga bersama komunitas di area Amphitheater. Kegiatan tersebut berlangsung melalui kolaborasi dengan Metta Yoga dan diikuti sejumlah peserta dalam suasana minim cahaya.

Sesi yoga dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus ajakan untuk lebih dekat dengan lingkungan melalui aktivitas yang tenang dan mindful. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna dalam peringatan Earth Hour.

Hotel Manager Kotta Hotel Semarang, Donny Pangemanan, menyampaikan bahwa Earth Hour bukan hanya simbol mematikan lampu, tetapi juga bentuk kesadaran bersama terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Earth Hour bukan hanya tentang mematikan lampu selama satu jam, tetapi tentang bagaimana kita membangun kesadaran bersama untuk menjaga bumi secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan komunitas seperti Metta Yoga, kami ingin menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih mindful terhadap lingkungan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Kotta Hotel Semarang menegaskan komitmennya dalam menghadirkan program berkelanjutan yang tidak hanya berdampak bagi lingkungan, tetapi juga memberikan pengalaman positif bagi masyarakat dan tamu hotel.

Kotta Hospitality Management sendiri merupakan jaringan hospitality yang berdiri sejak 2022 dan mengelola sejumlah properti, di antaranya Kotta Hotel Semarang, Kotta Kyu Semarang, Kotta GO Tegal, dan Kotta GO Yogyakarta. Setiap unit mengusung konsep desain dan pengalaman yang berbeda sesuai karakter masing-masing lokasi.*

Serius Tangani Sampah, Pemkot Semarang Resmikan Kerja Sama Proyek PSEL

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Keseriusan Pemerintah kota atau Pemkot Semarang dalam upaya penanganan sampah memasuki tahap yang lebih konkret melalui Penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penyelenggaraan Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) Wilayah Semarang Raya, pada Sabtu (28/3) di Ruang Rapat Gedung B Lantai 5 Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Penandatanganan yang dilakukan antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, dan Pemerintah Kabupaten Kendal, serta disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup, menjadi penanda bahwa pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan di wilayah Semarang Raya mulai dijalankan secara terstruktur.

Penandatanganan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang dilanjutkan dengan pembahasan tindak lanjut PSEL di wilayah lain di Jawa Tengah sebagai upaya percepatan penanganan sampah secara regional.

Dalam kerja sama tersebut, para pihak menyepakati arah kebijakan pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan melalui pembangunan PSEL sebagai solusi atas peningkatan timbulan sampah yang belum dapat tertangani optimal dengan sistem eksisting.

Pendekatan ini diarahkan untuk mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik sebagai nilai tambah.

Kesepakatan ini juga menetapkan skema kolaborasi lintas daerah, di mana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berperan dalam koordinasi dan pengawasan, sementara Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Kabupaten Kendal bertanggung jawab pada aspek teknis seperti penanganan sampah, penyediaan sarana prasarana, serta pemenuhan pasokan sampah sebagai bahan baku PSEL.

Melalui Perjanjian Kerja Sama, pengaturan tersebut diturunkan ke dalam langkah operasional yang mencakup seluruh tahapan penyelenggaraan PSEL, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga operasional dan pemeliharaan, termasuk pengelolaan risiko, penguatan kelembagaan, serta pengalokasian anggaran.

Bagi Kota Semarang, langkah ini bukan sekadar proses administratif. Ini adalah jawaban atas kebutuhan pengelolaan sampah di kota dengan timbulan harian yang besar.

Melalui kerja sama regional bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Kendal, sistem pengolahan sampah diarahkan lebih modern, terintegrasi, dan memberi dampak jangka panjang bagi lingkungan.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa Pemerintah Kota Semarang telah menyiapkan langkah paralel selama masa pembangunan yang diperkirakan berlangsung sekitar tiga tahun.

Selain memastikan kesiapan teknis, Pemkot Semarang juga tetap menggerakkan pengurangan sampah dari sumbernya.

“Masyarakat Kota Semarang menunggu pembangunan PSEL ini. Kami siap memenuhi kebutuhan feeding sebesar 1.100 ton sampah per hari sesuai perjanjian. Sambil menunggu proses pembangunan, kami akan menguatkan gerakan Semarang Wegah Nyampah dan memperbanyak bank sampah agar pengurangan dari hulu tetap berjalan,” ujar Agustina.

Menurutnya, pendekatan ini penting agar pengelolaan sampah berjalan seimbang antara kesiapan teknologi dan partisipasi masyarakat.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menilai penandatanganan kerja sama ini sebagai langkah fundamental dalam menjawab persoalan sampah yang telah menjadi isu nasional. Ia menekankan bahwa kota-kota besar membutuhkan pendekatan berbasis teknologi untuk menangani volume sampah dalam skala besar.

“Pengelolaan sampah menjadi energi listrik merupakan langkah efektif untuk mereduksi timbulan sampah secara signifikan. Ini bagian dari upaya percepatan penanganan sampah secara nasional,” ujarnya.

Di tingkat provinsi, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memastikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pengelolaan sampah di Jawa Tengah, termasuk melalui pembentukan satuan tugas percepatan penanganan sampah serta pengembangan teknologi alternatif seperti refuse derived fuel(RDF).

Ia juga menekankan bahwa tantangan pengelolaan sampah di Jawa Tengah masih cukup besar.

Dari 35 kabupaten/kota, sebanyak 29 daerah masih menerapkan praktik open dumping yang secara regulasi telah dilarang sejak Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.

Saat ini, tingkat pengelolaan sampah di Jawa Tengah baru mencapai sekitar 30 persen, sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 24,9 persen.

Secara nasional, sekitar 66 persen pengelolaan sampah masih dilakukan dengan metode open dumping.

Apabila praktik tersebut dapat diakhiri dan beralih ke sistem yang lebih terkelola seperti sanitary landfill dan teknologi pengolahan modern, tingkat pengelolaan sampah secara nasional berpotensi meningkat hingga 58 persen. Sementara itu, untuk Jawa Tengah, penghentian praktik open dumping yang saat ini masih mencapai sekitar 83 persen berpotensi mendorong lonjakan tingkat pengelolaan sampah hingga mendekati 78 persen.

Kerja sama ini juga sejalan dengan arah pembangunan Kota Semarang melalui program “Semarang Bersih”, serta mendukung program strategis nasional pengembangan PSEL yang ditargetkan mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan.

Penandatanganan kerja sama PSEL Semarang Raya ini menjadi titik penting peralihan dari tahap perencanaan menuju implementasi nyata pengelolaan sampah berbasis teknologi di Jawa Tengah.

Pemerintah Kota Semarang memastikan proses ini akan terus dikawal agar berjalan sesuai target dan memberikan dampak nyata bagi kualitas lingkungan serta pelayanan publik. (Adv)

Komitmen Hijau, Gets Premiere Semarang Ikut Earth Hour 2026

0

SEMARANG (Pertamanews.id) — Komitmen terhadap pelestarian lingkungan terus ditunjukkan Gets Premiere Semarang dengan kembali berpartisipasi dalam gerakan global Earth Hour 2026 yang digelar pada 28 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi simbol kepedulian industri perhotelan terhadap isu perubahan iklim sekaligus ajakan nyata kepada masyarakat untuk turut berkontribusi menjaga bumi.

Earth Hour merupakan gerakan internasional yang mengajak individu, komunitas, hingga pelaku industri di seluruh dunia untuk mematikan lampu serta penggunaan listrik yang tidak esensial selama satu jam.

Aksi sederhana ini menjadi simbol komitmen kolektif dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Pada momentum tersebut, Gets Premiere Semarang tak sekadar berpartisipasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda bagi para tamu.

Tepat pukul 20.30 hingga 21.30 WIB, manajemen hotel akan melakukan pemadaman lampu di sejumlah area utama seperti lobby, restoran, serta area publik lainnya, dengan tetap menjaga standar keamanan dan kenyamanan.

Sebagai pengganti pencahayaan utama, suasana hotel akan disulap menjadi lebih hangat dan intim melalui cahaya lilin dan lampu temaram.

Atmosfer ini diharapkan mampu memberikan pengalaman unik sekaligus menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kenyamanan hidup dan kelestarian lingkungan.

Marcom Gets Premiere Semarang, Yeftania, menegaskan bahwa partisipasi ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan pihak hotel.

“Partisipasi dalam Earth Hour merupakan langkah kecil yang kami lakukan secara konsisten sebagai bagian dari tanggung jawab kami terhadap lingkungan. Kami percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana, terlebih jika dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Melalui keikutsertaan dalam Earth Hour 2026, Gets Premiere Semarang berharap dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli terhadap lingkungan.

Momentum ini juga diharapkan menjadi pengingat bahwa upaya menjaga bumi dapat dimulai dari hal-hal sederhana, namun berdampak besar bagi generasi mendatang.***

Jargas Dipuji Warga Tarakan, Aliran Lancar dan Lebih Hemat

0

TARAKAN (Pertamanews.id) – Pemanfaatan jaringan gas kota (jargas) di Tarakan mendapat apresiasi dari warga. Salah satunya disampaikan Sabira, warga Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Tengah yang merasakan langsung manfaat penggunaan jargas dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sabira, keberadaan jargas sangat membantu, terutama saat Ramadan dan menjelang Idulfitri, ketika kebutuhan memasak meningkat.

Ia mengaku tidak lagi khawatir kehabisan gas seperti saat masih menggunakan LPG tabung.

“Aliran gasnya lancar 24 jam, jadi kita tidak takut kehabisan saat memasak, apalagi di momen Ramadan,” ujarnya.

Dari sisi biaya, ia juga merasakan penghematan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya menggunakan LPG 3 kilogram bisa menghabiskan hingga empat tabung dalam sebulan, kini pengeluarannya jauh lebih ringan.

“Sekarang paling tinggi bayar sekitar Rp60.000. Kalau dibandingkan dulu pakai LPG, jelas lebih hemat,” katanya.

Sabira menambahkan, dirinya telah menggunakan jargas sejak awal pemasangan di wilayahnya. Ia menilai penggunaan jargas lebih efisien dan membantu mengatur pengeluaran rumah tangga.

“Sebagai ibu rumah tangga tentu sangat terbantu karena lebih ekonomis,” tambahnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan pihak terkait atas layanan jargas yang dinilai stabil dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Wahyudi Anas, memastikan ketersediaan energi di Tarakan dalam kondisi aman, termasuk selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Ia menyebut, baik bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), maupun jargas dalam kondisi mencukupi dan distribusinya berjalan tanpa kendala.

“Seluruh distribusi energi terkonfirmasi aman dan lancar, sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan,”jelasnya.

Sementara itu, General Manager Sales and Operation Region (SOR) III PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Hedi Hedianto, menegaskan komitmen pihaknya untuk menjaga keandalan distribusi gas kepada masyarakat.

“Komitmen kami adalah memastikan penyaluran jargas tetap andal dan berjalan lancar agar masyarakat bisa terus merasakan manfaatnya,” ujarnya.***

Harmoni Mahakarya dan Sesaji Rewanda, Strategi Pemkot Semarang Rawat Budaya Goa Kreo

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang akan menyuguhkan perpaduan apik antara seni pertunjukan modern dan ritual adat sakral melalui rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda di kawasan Gunungpati pada akhir pekan ini.

Dimulai dengan pagelaran Mahakarya Legenda pada Jumat (27/3) malam di Plaza Kandri, rangkaian ini mencapai puncaknya melalui ritual tahunan Sesaji Rewanda di Obyek Wisata Goa Kreo pada Sabtu (28/3) pagi sebagai bentuk pelestarian warisan sejarah Sunan Kalijaga.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa sinergi kedua acara ini merupakan upaya strategis pemerintah dalam menjaga ekosistem budaya agar tetap relevan di tengah modernitas.

“Kami tidak ingin tradisi hanya menjadi cerita masa lalu yang statis. Melalui Mahakarya Goa Kreo, kami memberi ruang bagi kreativitas generasi muda untuk merepresentasikan legenda secara artistik. Sementara melalui Sesaji Rewanda, kita membumikan kembali nilai-nilai spiritual dan rasa syukur kepada Sang Pencipta melalui penghormatan terhadap alam,” ujar Agustina.

Momentum sakral pada Sabtu pagi ditandai dengan pemberangkatan rombongan kirab Sesaji Rewanda yang bergerak dari Masjid Al-Mabrur menuju pelataran Goa Kreo.

Dalam prosesi tersebut, replika kayu jati yang menjadi representasi sejarah perjuangan Sunan Kalijaga dipikul oleh delapan orang, diiringi barisan sembilan Santri Kanjengan serta sosok ikonik Kera Bangbintulu.

“Replika kayu jati ini menjadi pengingat bahwa pembangunan peradaban, seperti halnya Masjid Agung Demak dulu, membutuhkan gotong royong dan harmoni dengan alam. Kera-kera di Goa Kreo adalah bagian dari sejarah dakwah Sunan Kalijaga yang harus kita jaga habitatnya,” lanjutnya.

Tahun ini, sebanyak enam jenis gunungan dikirab sebagai pusat perhatian, mulai dari Gunungan Sesaji, Buah, Nasi Kuning, Hasil Bumi, Kupat Lepet, hingga Nasi Golong.

Setelah didoakan, gunungan tersebut dipersembahkan secara simbolis kepada kawanan kera sebagai bentuk sedekah alam, sebelum akhirnya dinikmati bersama oleh masyarakat sebagai wujud “ngalap berkah” atau mencari keberkahan dari hasil bumi yang melimpah.

Wali Kota juga menyoroti dampak ekonomi dari sinkronisasi dua acara besar ini.

Dengan adanya pagelaran di malam hari dan ritual di pagi hari, diharapkan wisatawan memiliki alasan lebih kuat untuk tinggal lebih lama dan menikmati atmosfer Desa Wisata Kandri.

“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan menyaksikan langsung sakralnya ritual ini. Selain edukasi sejarah, pengunjung juga bisa menikmati suasana alam Goa Kreo yang asri,” pungkasnya. (Adv)

Hujan Ekstrem Landa Tembalang, Pemkot Semarang Lakukan Penguatan Tanggul Kali Babon

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang bergerak cepat dengan memperkuat tanggul di sepanjang Kali Babon, Kecamatan Tembalang sebagai langkah tanggap darurat sekaligus antisipasi lanjutan menyusul kembali terjadinya banjir di sejumlah wilayah Kecamatan Tembalang akibat hujan ekstrem.

Hujan lebat yang mengguyur Kota Semarang sejak Rabu (25/3) malam hingga Kamis (26/3) dini hari, menyebabkan banjir kembali melanda sejumlah titik, antara lain wilayah Rowosari, Meteseh, Sumberejo, Grand Permata Tembalang, hingga Dinar Indah.

Kawasan-kawasan tersebut memang tercatat sebagai wilayah yang rentan terdampak saat curah hujan tinggi.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa pihaknya langsung melakukan langkah cepat berbasis koordinasi teknis untuk mengendalikan situasi.

“Pada saat debit Kali Plumbon meningkat tadi malam, kami langsung berkoordinasi dengan BBWS terkait pengaturan pintu air di Bendung Pucanggading. Bukaan pintu diarahkan ke Banjir Kanal Timur sehingga elevasi air di hulu bisa ditekan,” terangnya.

Pengaturan aliran tersebut terbukti mampu mengurangi tekanan air di wilayah hulu, sehingga limpasan di kawasan Meteseh dan Rowosari tidak setinggi kejadian banjir sebelumnya.
Selain itu, Pemkot Semarang juga langsung melakukan perkuatan tanggul darurat pada titik-titik kritis.

Penanganan juga dilakukan melalui pemasangan sandbag dan kisdam sebagai upaya menahan potensi luapan susulan, mengingat intensitas hujan masih berpotensi tinggi.

Di sisi lain, Agustina juga menyoroti keterbatasan intervensi pada kawasan perumahan baru yang terdampak banjir.

“Perumahan-perumahan baru di Meteseh dan Rowosari saat ini belum diserahterimakan, sehingga masih menjadi tanggung jawab pengembang. Pemerintah Kota belum dapat melakukan penanganan permanen di kawasan tersebut,” jelasnya.

Meski demikian, Pemerintah Kota tetap hadir dengan melakukan langkah-langkah konkret, seperti pembersihan lumpur pasca genangan, penanganan darurat di lapangan, serta penyiapan personel dan logistik untuk mengantisipasi kondisi lanjutan. Kejadian ini juga memperkuat catatan bahwa banjir akibat curah hujan ekstrem masih menjadi tantangan serius di Kota Semarang.

Sebelumnya, pada awal Maret 2026, wilayah lain seperti Mangkang dan Tlogosari juga mengalami banjir akibat kombinasi hujan tinggi dan kerusakan infrastruktur seperti talud jebol.

Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem pengendalian banjir secara menyeluruh, mulai dari koordinasi pengelolaan pintu air, penguatan tanggul, hingga mendorong percepatan penyelesaian kewajiban pengembang dalam penyediaan infrastruktur dasar.

“Kami pastikan Pemerintah Kota akan terus siaga, bergerak cepat, dan hadir di tengah masyarakat. Penanganan banjir harus dilakukan secara terpadu, dari hulu hingga hilir,” tegas Agustina.

Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Semarang terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca dan debit air, serta menyiagakan personel di titik-titik rawan guna memastikan respons cepat dapat dilakukan setiap saat.

Dengan langkah cepat, terukur, dan kolaboratif ini, diharapkan dampak banjir dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung. (Adv)

ARTOTEL Bianti Jawab Tren Pernikahan Gen Z dengan Konsep Eco dan Intimate

0

YOGYAKARTA (Pertamanews.id) – ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta menghadirkan berbagai paket pernikahan dengan pilihan venue yang fleksibel, mulai dari ballroom elegan, area outdoor di Garden Barley and Barrel, hingga Vanilla Sky Lounge yang menawarkan pemandangan kota Yogyakarta dari ketinggian.

Usai perayaan Lebaran, tren pernikahan kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Momen berkumpulnya keluarga besar kerap menjadi titik awal keputusan menuju jenjang pernikahan. Tak heran, periode pasca-Hari Raya dikenal sebagai salah satu musim tersibuk bagi industri wedding, khususnya di Yogyakarta.

Memasuki 2026, konsep pernikahan mengalami pergeseran. Pernikahan kini tidak lagi identik dengan acara besar dan masif, melainkan lebih mengarah pada perayaan yang intimate, hangat, dan penuh makna. Calon mempelai pun semakin menitikberatkan pada pengalaman tamu, mulai dari suasana hingga alur acara yang terasa lebih personal.

Konsep outdoor dengan pendekatan eco-conscious masih menjadi favorit generasi Z. Selain menghadirkan estetika natural, konsep ini juga mengusung nilai keberlanjutan melalui penggunaan bunga hidup, dekorasi yang dapat digunakan kembali, serta pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Jumlah tamu yang lebih terbatas justru menciptakan suasana yang lebih eksklusif dan berkesan.

Menariknya, pergeseran juga terjadi pada bagian akhir acara. Jika sebelumnya resepsi menjadi puncak perayaan, kini banyak pasangan menjadikan after party sebagai highlight utama. Suasana santai dengan musik, cocktail, dan interaksi yang lebih dekat bersama sahabat menjadikan momen ini terasa lebih hidup. Konsep seperti sunset celebration hingga late night party pun semakin diminati pasangan muda.

Menjawab kebutuhan tersebut, ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta menawarkan beragam venue yang dapat disesuaikan dengan konsep pernikahan. Ballroom menjadi pilihan bagi pasangan yang menginginkan nuansa elegan dengan skala besar. Sementara itu, area Garden Barley and Barrel cocok untuk konsep outdoor yang hangat dan intimate, baik untuk akad maupun resepsi. Adapun Vanilla Sky Lounge menghadirkan pengalaman eksklusif dengan latar pemandangan kota, ideal untuk private celebration maupun after party yang modern dan stylish.

Keunggulan dari berbagai pilihan venue ini terletak pada kemudahan merancang rangkaian acara dalam satu lokasi. Prosesi sakral, resepsi, hingga after party dapat berlangsung secara terintegrasi dengan perpindahan venue yang nyaman bagi tamu undangan.

Dari sisi penawaran, ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta menghadirkan paket pernikahan mulai dari Rp40.000.000 untuk 100 tamu. Tersedia pula promo potongan harga hingga Rp5.000.000 bagi pasangan yang melakukan konfirmasi lebih awal, khususnya untuk periode setelah Lebaran yang dikenal sebagai peak season.

General Manager ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta, Reza Farhan, menyebutkan bahwa tren saat ini menunjukkan perubahan preferensi yang cukup jelas.

“Pasangan saat ini tidak hanya mencari venue, tetapi juga pengalaman yang menyeluruh. Mereka ingin setiap momen terasa lebih dekat, lebih personal, dan memiliki cerita, termasuk bagaimana mereka merayakan after party bersama orang-orang terdekat,” ujarnya.***

DLH Kota Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah Langsung Dibersihkan

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) merespons cepat laporan masyarakat terkait adanya tumpahan sampah yang berceceran di sekitar Jalan Sultan Agung, di dekat pertigaan pos polisi, sebagaimana unggahan yang viral di media sosial pada Selasa (24/3).

Tim kebersihan segera dikerahkan ke lokasi tak lama setelah informasi diterima untuk memastikan kelancaran lalu lintas dan kebersihan lingkungan.

“Kami bergerak cepat segera setelah mendapat laporan. Penanganan di lapangan dilakukan secara sigap oleh personel kami, di mana proses pembersihan total tidak memakan waktu lama, bahkan tidak sampai satu jam lokasi sudah kembali bersih,” ujar Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasarani.

Berdasarkan penelusuran melalui rekaman CCTV, peristiwa tersebut melibatkan truk milik DLH yang mengangkut sampah dari TPS Pasar Jangli menuju TPA.

Diketahui bahwa pengemudi memacu kendaraan dengan kecepatan hampir 60 km/jam, melebihi batas ketentuan yang seharusnya 40 km/jam. Hal ini dilakukan pengemudi karena harus mengejar jadwal pengangkutan sampah di dua lokasi lain yang juga mengalami beban angkut tinggi.

“Penanganan pertama dilakukan dengan menyapu sampah ke pinggir oleh personel kami sambil menunggu armada pendukung. Begitu armada datang, sampah langsung dinaikkan ke truk. Pada pukul 13.00 WIB, seluruh area dipastikan sudah bersih dan rapi kembali,” tambahnya.

Atas kejadian yang mengganggu kenyamanan masyarakat tersebut, Kepala DLH Kota Semarang secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

Pihaknya menegaskan bahwa tanggung jawab atas kelalaian personel di lapangan tetap berada pada pimpinan instansi.

“Selaku Kepala DLH, saya menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya telah memanggil pengemudi yang bersangkutan untuk dimintai keterangan.

Meskipun yang bersangkutan dikenal memiliki rekam jejak kinerja yang baik selama ini, pihak dinas tetap memberikan sanksi tegas berupa teguran lisan maupun tertulis.

“Kami sudah memanggil driver yang bersangkutan dan memberikan teguran, baik secara lisan maupun peringatan tertulis. Jika kejadian serupa terulang kembali, kami tidak segan untuk memberikan sanksi yang lebih berat, termasuk pemecatan,” tambah Glory.

Selain pemberian sanksi, DLH Kota Semarang berkomitmen untuk melakukan evaluasi internal secara menyeluruh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) pengangkutan sampah. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh petugas di lapangan kembali memahami dan mematuhi aturan keselamatan serta kebersihan selama bertugas. (Adv)

Kondisi Kondusif, Arus Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026 di Semarang Tanpa Hambatan Berarti

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Arus mudik maupun arus balik Lebaran 2026 di Kota Semarang hingga berita ini diturunkan secara umum terpantau lancar dan kondusif.

Hal ini salah satunya terwujud karena sinergitas yang baik antara masyarakat, Pemerintah kota atau Pemkot Semarang dan juga Satlantas Polrestabes Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menerima laporan langsung dari Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, terkait perkembangan arus lalu lintas dan pergerakan pemudik selama periode pemantauan Posko Angkutan Lebaran.

Berdasarkan laporan tersebut, sejak 15 hingga 24 Maret 2026, jumlah kendaraan yang masuk dan melintas Kota Semarang terpantau tinggi. Melalui Gerbang Tol Kalikangkung, tercatat 377.193 kendaraan masuk dan 165.958 kendaraan keluar.

Di sejumlah ruas jalan utama kota, pergerakan kendaraan juga cukup padat. Jalan Perintis Kemerdekaan mencatat 594.074 kendaraan masuk dan 504.273 kendaraan keluar, sementara Jalan Siliwangi dilalui 661.815 kendaraan masuk. Di Jalan Brigjen Katamso, tercatat 263.129 kendaraan masuk dan 339.795 kendaraan keluar.

Sementara itu, mobilitas pemudik melalui berbagai simpul transportasi juga terpantau ramai lancar. Hingga Selasa (24/3) malam, tercatat 191.321 orang masuk ke Kota Semarang dan 177.044 orang keluar melalui moda transportasi kereta api, kapal laut, pesawat, dan bus antar kota.

Pergerakan penumpang paling tinggi tercatat di Stasiun Tawang dengan 73.405 penumpang masuk dan 68.891 penumpang keluar, serta Stasiun Poncol dengan 48.951 penumpang masuk dan 68.471 penumpang keluar.
Di Bandara Jenderal Ahmad Yani, tercatat 48.433 penumpang datang dan 34.559 penumpang berangkat, sementara di Pelabuhan Tanjung Emas terdapat 13.951 penumpang datang.

Agustina menyampaikan bahwa Kota Semarang memang menjadi simpul penting pergerakan arus mudik dan arus balik di Jawa Tengah, sehingga koordinasi lintas instansi terus dilakukan agar perjalanan masyarakat tetap aman dan lancar.

“Kita bersyukur arus mudik maupun arus balik di Kota Semarang hingga Selasa (24/3) malam terpantau lancar dan kondusif. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat secara langsung di lapangan, baik rekan-rekan dari Satlantas Polrestabes Semarang, Dishub serta masyarakat yang terus bersinergi dalam melakukan pemantauan dan pengaturan lalu lintas,” ujar Agustina, Selasa (24/3).

Ia menambahkan bahwa pengamanan dan pengaturan selama masa mudik dan arus balik juga melibatkan berbagai pihak, termasuk Kodim, posko-posko yang didirikan oleh organisasi kemasyarakatan, serta posko yang dibentuk masyarakat secara mandiri. Kolaborasi tersebut turut mendukung terciptanya kondisi lalu lintas yang tertib dan kondusif di Kota Semarang selama periode Lebaran.

Dishub Kota Semarang bersama kepolisian dan instansi terkait terus melakukan pemantauan melalui Area Traffic Control System (ATCS) serta pengaturan langsung oleh petugas di sejumlah titik strategis.

Peningkatan arus kendaraan akibat kebijakan one way nasional terpantau terutama di beberapa simpang utama kota seperti Simpang Karyadi, Kaligarang, dan Sam Poo kong. Meski demikian, kondisi lalu lintas masih dapat dikendalikan melalui rekayasa lalu lintas dan pengaturan petugas di lapangan.

Di samping jalur utama, Pemkot Semarang bersama jajaran Satlantas Polrestabes juga telah mengantisipasi potensi kepadatan kendaraan di titik-titik pusat oleh-oleh maupun destinasi wisata yang kerap menjadi tempat tujuan para pemudik.

Beberapa titik seperti Pandanaran, Lawang Sewu, Simpang Lima dan juga kawasan Kota Lama menjadi perhatian dalam pengaturan lalu lintas. Pihak Pemkot Semarang melalui Dishub dan Satlantas telah menyiapkan pengaturan kendaraan di wilayah tersebut untuk memastikan kelancaran mobilitas masyarakat.

Pemkot Semarang mengimbau masyarakat yang melakukan perjalanan arus balik agar tetap mematuhi aturan lalu lintas, mengikuti arahan petugas, serta memperhatikan kondisi kendaraan dan menjaga kesehatan selama perjalanan.

Pemantauan arus lalu lintas dan pergerakan pemudik melalui Posko Angkutan Lebaran Kota Semarang akan terus dilakukan hingga masa arus balik selesai, guna memastikan mobilitas masyarakat berlangsung aman dan tertib. (Adv)