spot_img
Beranda blog Halaman 2

tiket.com Dorong Pariwisata Berkelanjutan Lewat 4 Destinasi Wellness dan Eco-Luxury di Jateng

0

JAKARTA (Pertamanews.id) – Tren perjalanan kini tidak lagi sekadar soal destinasi. Semakin banyak wisatawan yang mencari pengalaman liburan yang lebih mindful, dekat dengan alam, sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan.

Menjawab tren tersebut, OTA pertama di Indonesia, tiket.com, terus memperkuat fitur tiket Green yang menghadirkan pilihan akomodasi ramah lingkungan di berbagai destinasi, termasuk kota-kota sekunder di Indonesia.

Melalui fitur ini, wisatawan dapat menemukan penginapan yang tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga pengalaman wellness, pelestarian budaya lokal, hingga praktik hospitality yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Semakin banyak wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan yang terasa personal, dekat dengan alam, dan memberi kesempatan untuk rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari. Melalui tiket Green, kami ingin membantu masyarakat menemukan akomodasi yang tidak hanya nyaman, tetapi juga menghadirkan pengalaman menginap yang lebih bermakna,” ujar Cisyelya Bunyamin, SVP of Accommodations tiket.com.

Sebagai bagian dari komitmen mendukung pariwisata berkelanjutan, tiket Green mengacu pada enam indikator utama, yakni pengelolaan pangan, air, energi, biodiversitas dan shelter, pengolahan sampah, serta mindfulness.

Di Jawa Tengah, tiket.com merekomendasikan empat destinasi wellness dan eco-hospitality yang menawarkan pengalaman menginap unik sekaligus menerapkan praktik keberlanjutan secara nyata.

  1. Rumah Atsiri Indonesia, Wellness di Lereng Gunung Lawu

Terletak di Desa Plumbon, Tawangmangu, Rumah Atsiri Indonesia lahir dari revitalisasi pabrik penyulingan Citronella yang dibangun pada 1963. Kini kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi terpadu yang menggabungkan sejarah, edukasi, wellness, dan hospitality.

Salah satu fasilitas unggulannya adalah Atsiri Glamping, yang menerapkan berbagai program ramah lingkungan seperti penghematan energi melalui pemutusan daya listrik pada kamar kosong, pengaturan penggunaan air panas, hingga pengurangan plastik sekali pakai.

Pengunjung juga dapat menikmati berbagai aktivitas seperti mengunjungi Museum Atsiri, mengikuti workshop aromaterapi, hingga trekking di kawasan lereng Gunung Lawu yang sejuk dan asri.

Harga menginap di Atsiri Glamping tersedia mulai Rp1,2 juta per malam.

  1. Puri Asri Hotel & Resort Magelang, Resort Hijau di Tepi Sungai Progo

Berdiri sejak 1998 di tepi Sungai Progo, Puri Asri Hotel & Resort menjadi salah satu pelopor akomodasi yang menggabungkan kenyamanan modern dengan komitmen lingkungan.

Hotel ini menjalankan berbagai program sustainability, mulai dari pengolahan sampah tanpa pembakaran, pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk, penggunaan lampu LED hemat energi, hingga sistem pemanfaatan ulang air.

Selain itu, konsep live cooking diterapkan untuk mengurangi food waste, sementara operasional hotel juga didukung kendaraan listrik. Bagi keluarga, tersedia Eden’s Park yang menghadirkan permainan tradisional tanpa menggunakan listrik.

Dengan suasana hijau yang tenang, hotel ini menjadi pilihan ideal untuk short escape maupun liburan keluarga. Harga kamar ditawarkan mulai Rp900 ribuan per malam.

  1. ARTOTEL Leguna Magelang, Hotel Artistik dengan Konsep Tropis Berkelanjutan

Sebagai hotel terbaru di Magelang, ARTOTEL Leguna menghadirkan konsep art-inspired hotel dengan desain modern tropis karya arsitek ternama Andra Matin.

Arsitektur bangunan dirancang untuk memaksimalkan pencahayaan alami dan sirkulasi udara sehingga kebutuhan penggunaan AC dan lampu dapat ditekan. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi efisiensi energi yang sejalan dengan konsep sustainable hospitality yang dikembangkan Artotel Group.

Selain menawarkan kenyamanan modern, hotel ini juga memberikan pengalaman menginap yang dekat dengan karakter budaya dan lanskap alam Magelang.

Wisatawan dapat menikmati pengalaman menginap di ARTOTEL Leguna Magelang dengan tarif mulai Rp850 ribuan per malam.

  1. Plataran Borobudur Resort & Spa, Kemewahan Berbalut Alam dan Budaya

Berada hanya sekitar lima menit dari Candi Borobudur, Plataran Borobudur Resort & Spa menawarkan pengalaman eco-luxury dengan panorama Candi Borobudur, Gunung Merapi, Pegunungan Menoreh, serta hamparan hutan jati.

Mengusung filosofi “True Indonesian Icon”, resort ini memadukan kemewahan dengan pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal. Berbagai aktivitas budaya dan alam dirancang untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih mindful sekaligus mendukung keberlangsungan tradisi setempat.

Keterlibatan masyarakat sekitar dalam aktivitas budaya, hospitality, dan penyediaan pengalaman wisata menjadi salah satu bentuk kontribusi resort terhadap ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Harga menginap di Plataran Borobudur Resort & Spa tersedia mulai Rp5 juta per malam.

Cisyelya menambahkan, setiap destinasi memiliki cara berbeda dalam menghadirkan pengalaman menginap yang berkesan, mulai dari kedekatan dengan alam, wellness, hingga kekayaan budaya lokal.

“Setiap destinasi memiliki cara berbeda untuk menghadirkan pengalaman menginap yang berkesan, mulai dari kedekatan dengan alam, wellness, hingga budaya lokal. Kami berharap rekomendasi ini bisa menjadi inspirasi bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan dengan cara yang terus mendukung keberlanjutan,” tutupnya.

Melalui tiket Green, wisatawan kini semakin mudah menemukan akomodasi yang selaras dengan gaya hidup berkelanjutan, tanpa harus mengorbankan kenyamanan saat berlibur.***

35 Tahun Menyusuri Jalanan Jakarta, Sinta Hidayat Dedikasikan Hidup untuk Tunawisma

0

JAKARTA (Pertamanews.id) – Setiap Senin, selama lebih dari tiga dekade, Sinta Hidayat melangkahkan kaki ke sudut-sudut Jakarta yang jarang mendapat perhatian.

Di kampung-kampung pemulung, kawasan tunawisma, hingga komunitas masyarakat miskin perkotaan, ia hadir membawa makanan sehat, pelayanan kesehatan, dan yang terpenting, perhatian.

Bagi Sinta Hidayat, istri pemilik jamu nasional Sido Muncul Irwan Hidayat, pelayanan itu bukan sekadar kegiatan sosial. Ia menyebutnya sebagai perjalanan menemukan “Yesus yang tersamar” di tengah mereka yang miskin, terlupakan, dan sering dipandang sebelah mata.

“Yesus itu bukan jauh di surga atau di langit yang tidak bisa kita lihat. Dia ada di sekitar kita. Dia tersamar di dalam diri orang-orang miskin yang membutuhkan,” kata Sinta dalam sebuah perbincangan mengenai pelayanan yang telah dijalaninya selama lebih dari 35 tahun, baru-baru ini.

Inspirasi itu ia temukan dari spiritualitas Santo Teresa dari Kalkuta atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Teresa. Bersama sejumlah sahabat yang mengagumi karya-karya biarawati peraih Nobel Perdamaian tersebut, Sinta berusaha menghidupi ajaran tentang kasih yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

Salah satu pesan yang paling membekas baginya adalah ungkapan “Aku haus” yang diucapkan Yesus saat disalib.
“Bagi Ibu Teresa, Yesus haus akan cinta manusia. Dan kita diajak memberikan ‘air’ yang bisa melegakan dahaga itu melalui kasih kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita,” ujarnya.

Namun, perjalanan pelayanan itu tidak selalu berjalan mulus. Beberapa lokasi pelayanan yang mereka gunakan pernah dibakar oleh orang tak dikenal. Namun peristiwa tersebut tidak membuat Sinta dan rekan-rekannya berhenti.

Ia memilih berpindah tempat dan melanjutkan pelayanan di lokasi lain.

“Karena saya mencari Yesus-Yesus yang tersamar itu. Dalam melayani mereka bukan menjadi beban, tetapi persembahan dari iman saya,” tuturnya.

Semangat itu membuat pelayanan tetap berjalan hingga kini.

Setiap Senin, sekitar 15 relawan terlibat dalam berbagai kegiatan. Mereka membagikan makanan sehat, mengadakan pemeriksaan kesehatan sederhana, serta menyediakan obat-obatan gratis melalui dukungan dokter yang secara sukarela ikut melayani.

Selain itu, mereka juga mendampingi anak-anak melalui berbagai kegiatan edukatif seperti belajar kebersihan diri, menggambar, hingga aktivitas kreatif lainnya.

Bank Mini bagi Kaum Miskin

Salah satu program yang unik adalah penyimpanan tabungan bagi para pemulung dan tunawisma.
Program ini lahir dari kebutuhan sederhana. Banyak warga miskin perkotaan tidak memiliki tempat aman untuk menyimpan uang.

Sebagian bahkan hanya menyelipkan uang di saku atau pakaian yang mereka kenakan setiap hari.
Karena itu, tim Sinta membantu menyimpan uang mereka agar tidak habis digunakan untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
Saat ini, sekitar 200 orang tercatat sebagai penabung di lokasi pelayanan terbaru. Di lokasi sebelumnya, jumlahnya pernah mencapai 500 hingga 600 orang.

Nilai tabungan yang disimpan pun beragam. Ada yang hanya beberapa ribu rupiah setiap minggu, tetapi ada pula yang mampu menabung hingga Rp200 ribu setiap pekan dari hasil bekerja sebagai tukang pijat.

“Kalau Lebaran biasanya kami minta mereka mengambil tabungan. Ada yang untuk pulang kampung, membantu keluarga, memperbaiki rumah, bahkan ada yang membeli kambing,” kata Sinta.

Tabungan tersebut juga kerap menjadi penyelamat ketika anggota keluarga mereka sakit atau ketika anak-anak membutuhkan biaya sekolah.

“Kalau untuk makan sehari-hari biasanya mereka masih bisa bertahan. Tapi ketika ada anggota keluarga sakit, mereka kesulitan karena tidak punya uang cadangan,” ujarnya.

Menularkan Semangat kepada Generasi Muda

Pelayanan Sinta tidak berhenti pada masyarakat miskin. Ia juga berusaha menanamkan nilai kepedulian kepada generasi muda.

Di Wisma Sahabat Yesus, Margonda, Depok, ia secara rutin mendampingi mahasiswa dari berbagai daerah untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan.

Dua kali setiap bulan, para mahasiswa diajak membagikan makanan gratis kepada masyarakat, termasuk para pengemudi ojek online yang melintas di sekitar lokasi.

Menurut Sinta, pengalaman bertemu langsung dengan orang-orang yang berjuang keras untuk hidup sering kali mengubah cara pandang para mahasiswa.

Mereka mendengar kisah pengemudi ojek yang tetap bekerja meski mengalami keterbatasan fisik, atau pasangan suami istri yang harus bekerja bersama demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Cerita-cerita sederhana itu, kata Sinta, membantu anak-anak muda belajar bersyukur dan menghargai perjuangan orang tua mereka.

“Banyak mahasiswa yang akhirnya sadar bahwa mereka masih beruntung bisa kuliah. Mereka jadi lebih bersyukur dan lebih serius belajar,” katanya.

Kasih yang Terus Menyala

Lebih dari 35 tahun berlalu sejak langkah pelayanan itu dimulai. Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk penolakan dan intimidasi, Sinta tetap memilih hadir setiap Senin untuk mereka yang membutuhkan.

Baginya, pelayanan bukan tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk melihat martabat manusia dalam diri setiap orang.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, ketika banyak orang berlalu tanpa sempat menoleh, Sinta Hidayat terus berjalan mencari “Yesus yang tersamar”—dalam diri pemulung, pengemis, tunawisma, dan siapa saja yang membutuhkan uluran kasih.

Sebuah pelayanan sederhana yang membuktikan bahwa cinta dapat tetap menyala, bahkan setelah lebih dari tiga dekade.

Semarang Cetak Prestasi Nasional, Creative Financing Jadi Kunci Percepatan Pembangunan

0

YOGYAKARTA (Pertamanews.id) – Pemerintah Kota Semarang kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Di tengah tantangan fiskal dan tingginya kebutuhan pembangunan perkotaan, Kota Semarang berhasil meraih Penghargaan Terbaik III Kategori Creative Financing tingkat kota dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Regional Jawa-Bali yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI di Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas keberhasilan Pemerintah Kota Semarang dalam menghadirkan model pembiayaan pembangunan yang inovatif, kreatif, sekaligus akuntabel guna menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan capaian tersebut bukan sekadar simbol prestasi pemerintah daerah, melainkan buah dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam membangun Kota Semarang yang lebih maju dan kompetitif.

“Penghargaan ini bukan sekadar tentang prestasi pemerintah daerah, tetapi tentang bagaimana Kota Semarang mampu membuktikan bahwa kolaborasi, inovasi, dan tata kelola yang baik dapat menghadirkan pembangunan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Ini penghargaan untuk seluruh warga Kota Semarang,” ujar Agustina.

Menurutnya, kebutuhan pembangunan kota yang terus meningkat membuat pemerintah daerah dituntut mencari terobosan pembiayaan di luar skema konvensional.

Karena itu, Pemkot Semarang terus mendorong berbagai strategi creative financing guna mempercepat pembangunan, menarik investasi, serta memperluas partisipasi berbagai pihak tanpa mengurangi kualitas layanan publik.

Pengakuan nasional tersebut sekaligus mempertegas posisi Kota Semarang sebagai daerah dengan tata kelola pemerintahan yang dinilai adaptif dalam menghadapi tantangan pembangunan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri RI, Tito Karnavian, menegaskan penghargaan diberikan kepada pemerintah daerah yang mampu menunjukkan inovasi, kinerja nyata, dan tata kelola pemerintahan yang baik.

“Penghargaan ini bukan tujuan akhir, melainkan pemacu bagi pemerintah daerah untuk terus berinovasi, memperkuat kinerja, dan menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat. Daerah yang mampu mengelola sumber dayanya secara kreatif dan akuntabel akan memiliki fondasi yang lebih kuat menghadapi tantangan pembangunan ke depan,” kata Tito.

Bagi Pemkot Semarang, penghargaan tersebut juga menjadi indikator meningkatnya kepercayaan berbagai pihak terhadap iklim investasi dan profesionalitas pengelolaan pembangunan di ibu kota Jawa Tengah itu.

Agustina menekankan bahwa setiap anggaran yang dikelola pemerintah harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Oleh sebab itu, pihaknya akan terus mengembangkan pola pembiayaan yang efektif, inovatif, dan bertanggung jawab agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat tanpa membebani warga.

“Setiap rupiah yang dikelola pemerintah harus menghasilkan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat. Karena itu kami terus mencari cara-cara baru yang lebih efektif, kreatif, dan bertanggung jawab agar pembangunan berjalan lebih cepat tanpa membebani warga,” tegasnya.

Meski meraih penghargaan nasional, Agustina menegaskan bahwa penghargaan bukan tujuan akhir pembangunan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah sejauh mana masyarakat merasakan dampak nyata dari pembangunan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami tidak ingin berhenti pada penghargaan. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat merasakan manfaat pembangunan itu. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah meningkatnya kesejahteraan warga dan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah,” tandasnya.

Ke depan, Pemerintah Kota Semarang akan terus memperkuat lima prioritas pembangunan, meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi dan investasi, pemerataan infrastruktur, reformasi birokrasi dan pelayanan publik, serta ketahanan lingkungan dan sosial.

Raihan penghargaan nasional ini kembali menegaskan bahwa inovasi pembangunan di Kota Semarang tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan melalui langkah nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.***

Pesan Haru dari Film “Jangan Buang Ibu”, Agustina Ajak Warga Perkuat Nilai Keluarga

0

SEMARANG (Jatengreport.com) – Tangis haru pecah di sejumlah sudut Studio XXI Paragon Semarang saat layar menampilkan kisah perjuangan seorang ibu dalam film “Jangan Buang Ibu”, Rabu (3/6).

Bukan sekadar nonton bareng jelang penayangan nasional pada 25 Juni 2026, malam itu menjadi ruang perenungan yang menyentuh hati tentang cinta yang paling tulus dalam hidup manusia: cinta seorang ibu.

Di tengah kehangatan suasana, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengajak masyarakat untuk kembali menoleh kepada sosok yang sering kali terlupakan di tengah kesibukan hidup. Baginya, film “Jangan Buang Ibu” hadir sebagai pengingat yang sangat relevan di era modern ketika hubungan keluarga kerap tergerus oleh rutinitas dan tuntutan zaman.

“Kadang kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa kepada orang yang sejak awal selalu memperjuangkan masa depan kita. Ibu tidak pernah berhenti mencintai, mendoakan, dan menunggu anak-anaknya pulang. Film ini mengingatkan kita untuk tidak terlambat menunjukkan kasih sayang kepada orang tua,” ujar Agustina.

Film karya sutradara Hadrah Daeng Ratu tersebut mengisahkan perjuangan Ristiana, seorang ibu tunggal yang mengorbankan hidupnya demi membesarkan tiga anak. Namun ketika anak-anaknya berhasil meraih kesuksesan, kesibukan dan ego perlahan menjauhkan mereka dari sosok yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

Bagi Agustina, kisah tersebut bukan sekadar cerita di layar lebar, melainkan cerminan realitas yang terjadi di sekitar masyarakat. Banyak orang tua yang tidak kekurangan materi, tetapi merindukan perhatian, kehadiran, dan waktu bersama anak-anak mereka.

“Di zaman ketika kita bisa menghubungi siapa pun dalam hitungan detik, justru jangan sampai kita kehilangan kedekatan dengan orang-orang yang paling kita cintai. Kehadiran dan perhatian sering kali menjadi hadiah terbesar bagi orang tua,” katanya.

Malam penuh makna itu juga menjadi bukti bagaimana sebuah karya film mampu menjadi jembatan empati yang menyatukan berbagai kalangan. Hadir dalam acara tersebut unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, pelaku usaha, komunitas sosial, hingga para pemeran film.

Kehadiran para pemain utama semakin menghidupkan suasana emosional. Salah satu pemeran, Reval Hady, berharap film tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi mampu meninggalkan pesan yang membekas di hati penonton.

“Film ini adalah pengingat tentang perjuangan ibu yang sering kita lupakan. Semoga pesan yang dibawa bisa sampai ke hati setiap orang yang menontonnya,” ungkap Reval.

Di balik pesan kemanusiaan yang kuat, penyelenggaraan nobar tersebut juga menunjukkan wajah Semarang sebagai kota yang semakin terbuka bagi perkembangan industri kreatif dan perfilman nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Semarang terus tumbuh menjadi ruang yang nyaman bagi para sineas untuk berkarya, berkolaborasi, dan menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Agustina menegaskan bahwa Pemerintah Kota Semarang berkomitmen mendukung ekosistem kreatif, termasuk perfilman, karena film memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter, menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus memperkenalkan wajah kota kepada khalayak yang lebih luas.

“Semarang tidak hanya ingin dikenal sebagai kota yang maju secara fisik, tetapi juga sebagai kota yang memberi ruang bagi lahirnya karya-karya kreatif yang menginspirasi. Kami ingin Semarang menjadi rumah yang nyaman bagi para sineas untuk bercerita, berkarya, dan menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat,” tegasnya.

Menurut Agustina, pembangunan kota tidak cukup diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi semata. Kota yang kuat juga dibangun oleh keluarga yang kuat, masyarakat yang memiliki empati, dan budaya yang terus hidup melalui karya-karya kreatif.

“Ketahanan kota berawal dari ketahanan keluarga. Dan dalam keluarga, ibu sering menjadi fondasi utama yang menjaga kasih sayang, pendidikan karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Karena itu, memuliakan ibu sesungguhnya adalah bagian dari membangun peradaban,” ujarnya.

Menutup acara, Agustina mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi sederhana namun bermakna. Menelepon ibu, menyempatkan waktu berkunjung, atau sekadar mendengarkan cerita mereka, menurutnya, adalah bentuk penghormatan yang sering kali lebih berharga daripada apa pun.

“Semoga ketika meninggalkan bioskop malam ini, kita tidak hanya membawa kesan tentang filmnya. Kita membawa pulang kesadaran bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah habis. Dan sudah sepatutnya kita membalasnya dengan cinta, perhatian, dan kehadiran yang tulus,” pungkasnya.

Agustina Pacu Transformasi Hijau, Proyek Sampah Jadi Listrik Semarang Curi Perhatian Dunia

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Komitmen Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi semakin mendapatkan pengakuan.

Salah satu buktinya adalah tingginya minat investor global terhadap proyek Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) Semarang Raya di TPA Jatibarang yang nilai investasinya mencapai Rp3 triliun.

Sebanyak 85 investor dari berbagai negara tercatat menunjukkan ketertarikan terhadap proyek strategis tersebut. Bahkan, pada Kamis (4/6), sebanyak enam perusahaan melakukan kunjungan langsung ke lokasi PSEL Semarang Raya untuk meninjau lokasi proyek. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah seiring rencana kunjungan investor lainnya pada 8 Juni 2026 mendatang.

Tingginya minat investor tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan terhadap kesiapan Kota Semarang dalam mengembangkan proyek pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang mendukung transisi menuju energi bersih.

Agustina menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional semata. Menurutnya, diperlukan lompatan inovasi agar sampah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari transformasi sebuah kota. Kota Semarang ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat,” tegas Agustina Rabu (3/6).

Melalui proyek PSEL Semarang Raya, Kota Semarang tidak hanya membangun fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap investasi hijau dan pengembangan teknologi ramah lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Glory Nasarani, menjelaskan bahwa tingginya minat investor mendorong Badan Pengelola Investasi Danantara untuk menyiapkan tahapan lanjutan, termasuk kunjungan lapangan dan finalisasi dokumen lelang.

“Hasil market sounding menunjukkan respons yang sangat positif. Saat ini pemerintah daerah terus menyiapkan berbagai dokumen pendukung dan data teknis yang diperlukan agar proses investasi dapat berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Proyek PSEL Semarang Raya dirancang untuk melayani kawasan Semarang Raya yang meliputi Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Kehadiran proyek ini menjadi contoh kolaborasi antardaerah dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Bagi Pemerintah Kota Semarang, proyek ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada sistem penimbunan sampah di TPA. Dengan teknologi pengolahan modern yang tengah dikaji, volume sampah dapat ditekan secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik yang bermanfaat.

Selain memberikan dampak lingkungan yang positif, proyek ini juga diproyeksikan mampu membuka lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, serta meningkatkan daya saing Kota Semarang di mata investor nasional maupun internasional.

Komitmen tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kota Semarang yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, inovasi pelayanan publik, dan kualitas hidup masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, Pemerintah Kota Semarang optimistis proyek PSEL Semarang Raya dapat menjadi tonggak penting transformasi pengelolaan sampah sekaligus menjadikan Semarang sebagai salah satu kota percontohan ekonomi hijau di Indonesia.

Adanya PSEL Semarang Raya sejalan dengan visi pembangunan Kota Semarang yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, penguatan ekonomi hijau, inovasi pelayanan publik, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, Pemerintah Kota Semarang optimistis proyek ini dapat menjadi tonggak penting transformasi pengelolaan sampah sekaligus memperkuat posisi Semarang sebagai salah satu daerah percontohan ekonomi hijau di Indonesia.

“Kami ingin memastikan bahwa pengelolaan sampah di Kota Semarang tidak hanya menjadi solusi untuk hari ini, namun juga menjadi investasi bagi masa depan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkas Agustina.

PGN Dukung Transformasi Green Hospital RSUP dr. Sardjito melalui Pemanfaatan Gas Bumi Rendah Emisi

0

YOGYAKARTA (Pertamanews.id) — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperluas pemanfaatan gas bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui pemasangan instalasi gas bumi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Sardjito, Sleman sebagai bagian dari pengembangan ekosistem Green Hospital dan dukungan terhadap layanan publik yang lebih efisien serta berkelanjutan.

Direktur Infrastruktur & Teknologi PGN Hery Murahmanta mengatakan, pemanfaatan gas bumi di fasilitas layanan kesehatan menjadi langkah penting dalam mendukung operasional rumah sakit yang membutuhkan pasokan energi andal selama 24 jam.

“Rumah sakit merupakan layanan publik vital yang membutuhkan dukungan energi yang stabil, efisien, dan berkelanjutan. Pemanfaatan gas bumi di RSUP dr. Sardjito menjadi bagian dari upaya bersama mendukung transformasi layanan kesehatan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Hery usai meresmikan operasional instalasi gas bumi di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta.

Menurut Hery, pengembangan infrastruktur gas bumi tersebut sejalan dengan arahan pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional dan keberlanjutan energi domestik.

PGN sebagai Subholding Gas Pertamina terus menjalankan perannya dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui empat pilar utama, yakni Availability (Ketersediaan), Accessibility (Aksesibilitas), Affordability (Keterjangkauan), dan Acceptability (Penerimaan).

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PGN. Kami berharap pemanfaatan gas bumi ini dapat mendukung efisiensi operasional rumah sakit sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih rendah emisi,” katanya.

Hery menjelaskan, gas bumi yang disalurkan PGN mayoritas bersumber dari produksi domestik sehingga turut membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi nasional.

Selain itu, penggunaan gas bumi dinilai lebih efisien dan memiliki emisi yang lebih rendah dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak, sehingga dapat mendukung target pengurangan emisi di sektor pelayanan publik.

General Manager Sales and Operation Region III PGN Hedi Hedianto menambahkan, proses pemasangan instalasi gas bumi di RSUP dr. Sardjito berlangsung selama sekitar delapan bulan dan akan dimanfaatkan untuk mendukung operasional boiler maupun dapur rumah sakit.

“Pemanfaatannya diperkirakan mencapai sekitar 30.000 meter kubik gas per bulan. Dengan pembakaran yang lebih efisien dan pasokan yang stabil, kami berharap pemanfaatan gas bumi di RSUP dr. Sardjito dapat terus berkembang,” ujar Hedi.

Sementara itu, Direktur Layanan Operasional RSUP dr. Sardjito dr. Riat El Khair mengatakan, penggunaan gas bumi menjadi bagian dari langkah rumah sakit dalam mengurangi konsumsi bahan bakar minyak jenis solar secara bertahap.

“Selama ini penggunaan solar cukup besar, baik untuk boiler maupun kebutuhan dapur gizi. Dengan adanya gas bumi, kami berharap operasional rumah sakit menjadi lebih efisien dan mendukung pengembangan Green Hospital,” katanya.

Menurut Riat, kebutuhan energi rumah sakit sangat besar mengingat kapasitas layanan RSUP dr. Sardjito yang mencapai hampir 1.000 tempat tidur dengan aktivitas operasional yang berjalan tanpa henti setiap hari.

Ke depan, PGN berharap pemanfaatan gas bumi di sektor layanan publik seperti rumah sakit dapat semakin luas sebagai bagian dari dukungan terhadap transisi energi nasional, peningkatan efisiensi operasional fasilitas publik, serta pembangunan yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan.

BULOG Cetak Rekor Baru, Serapan Gabah Nasional Lampaui 3 Juta Ton

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Perum BULOG kembali mencatat capaian besar dalam pengadaan pangan nasional. Hingga 3 Juni 2026, realisasi serapan gabah dan beras petani secara nasional telah menembus 3.008.626 ton setara beras atau sekitar 75 persen dari target nasional 4 juta ton pada 2026.

Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting penguatan cadangan pangan nasional sekaligus rekor baru dalam upaya menjaga stabilitas harga dan perlindungan terhadap petani di Indonesia.

Di wilayah kerja Jawa Tengah, Perum BULOG Kantor Wilayah Jawa Tengah turut memberikan kontribusi signifikan. Hingga awal Juni 2026, serapan gabah dan beras petani di wilayah ini mencapai 237.222,83 ton setara beras, memperkuat stok pangan pemerintah sekaligus memastikan hasil panen petani terserap optimal.

Pimpinan Perum BULOG Kanwil Jawa Tengah,
Sri Muniati, mengatakan capaian tersebut mencerminkan komitmen BULOG dalam menjaga kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Realisasi serapan sebesar 237.222,83 ton setara beras di wilayah kerja Kanwil Jawa Tengah menunjukkan komitmen kami untuk terus hadir di tengah petani, memastikan hasil panen terserap secara optimal, serta mendukung penguatan ketahanan pangan nasional,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, keberhasilan serapan gabah dan beras tidak lepas dari sinergi lintas sektor mulai dari petani, pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian, penggilingan padi hingga seluruh insan BULOG yang bekerja intensif selama musim panen berlangsung.

Secara nasional, capaian serapan lebih dari 3 juta ton ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Apalagi, stok beras yang saat ini dikelola BULOG telah melampaui 5 juta ton, tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional.

Kondisi tersebut dinilai mampu memberikan jaminan kuat terhadap ketersediaan pangan untuk berbagai kebutuhan pemerintah, mulai dari stabilisasi harga, bantuan pangan masyarakat hingga mitigasi potensi gejolak pasar dan bencana.

Keberhasilan pengadaan juga disebut menjadi bukti efektivitas kebijakan pemerintah melalui penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai mampu memberikan kepastian harga sekaligus pasar bagi petani.

Dengan musim panen yang masih berlangsung di sejumlah wilayah strategis, BULOG optimistis target pengadaan 4 juta ton setara beras pada 2026 dapat tercapai bahkan sebelum akhir tahun.

“Keberhasilan serapan ini bukan hanya angka, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada petani dan komitmen bersama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional,” tutup Sri Muniati.***

Tebar Kepedulian di Hari Raya Iduladha 1447 H, PLN UIP JBT Salurkan Daging Kurban kepada 2.400 Penerima Manfaat

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Semangat berbagi dan kepedulian mewarnai peringatan Hari Raya Iduladha 1447 H di lingkungan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT).

Dalam rangka merayakan hari besar umat Islam tersebut, PLN UIP JBT melaksanakan pemotongan dan penyaluran hewan kurban pada 27 hingga 29 Mei 2026 kepada sekitar 2.400 penerima manfaat yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Pada tahun ini, PLN UIP JBT menyalurkan total 18 ekor sapi dan 19 ekor kambing yang berasal dari para shohibul kurban di lingkungan perusahaan. Hewan kurban tersebut didistribusikan ke lima unit kerja PLN UIP JBT, yakni Kantor Induk PLN UIP JBT di Kota Bandung, PLN UPP JBT 1 di Kabupaten Bandung Barat, PLN UPP JBT 2 di Kota Bandung, PLN UPP JBT 3 di Kota Cirebon, dan PLN UPP JBT 4 di Kota Semarang.

Secara rinci, Kantor Induk PLN UIP JBT menyalurkan 10 ekor sapi dan 4 ekor kambing, PLN UPP JBT 1 sebanyak 2 ekor sapi dan 4 ekor kambing, PLN UPP JBT 2 sebanyak 1 ekor sapi dan 4 ekor kambing, PLN UPP JBT 3 sebanyak 2 ekor sapi dan 4 ekor kambing, serta PLN UPP JBT 4 sebanyak 3 ekor sapi dan 3 ekor kambing.

Daging kurban kemudian didistribusikan kepada berbagai kelompok penerima manfaat, mulai dari pegawai dan tenaga alih daya PLN UIP JBT, kaum dhuafa, pondok pesantren, rumah tahfidz, panti disabilitas, panti asuhan, hingga masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Jawa Bagian Tengah menyampaikan bahwa momentum Iduladha menjadi pengingat akan nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial yang harus terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh shohibul kurban yang telah mempercayakan penyaluran hewan kurbannya melalui PLN UIP JBT.

“Iduladha mengajarkan kita untuk berbagi dan memberikan manfaat kepada sesama. Melalui kegiatan kurban ini, PLN ingin menghadirkan kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara perusahaan dengan lingkungan sekitar. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh shohibul kurban yang telah mempercayakan hewan kurbannya kepada PLN UIP JBT. Semoga semangat berbagi ini dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari budaya yang kita bangun bersama,” kata Kishartanto.

Pelaksanaan kurban dilakukan secara paralel di seluruh unit kerja PLN UIP JBT dengan melibatkan pegawai, panitia kurban, serta berbagai pihak yang turut mendukung kelancaran kegiatan.

Selain menjadi bentuk ibadah, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas antarpegawai maupun dengan masyarakat sekitar.

Ribuan paket daging kurban yang disalurkan menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan yang terus dijaga oleh PLN.

Kehadiran program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi para penerima manfaat dalam merayakan Hari Raya Iduladha.

Melalui kegiatan kurban ini, PLN UIP JBT kembali menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menghadirkan infrastruktur ketenagalistrikan yang andal, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan melalui berbagai program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Sejalan dengan semangat Iduladha 1447 H, PLN UIP JBT berharap nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian dapat terus menginspirasi seluruh insan PLN untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.***

Ribuan Warga Antusias, Smartfren Fun Run 2026 Hidupkan Semangat Sehat di Semarang

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Sebanyak 1.100 peserta memeriahkan ajang Smartfren Fun Run 2026 yang digelar di kawasan Balai Kota Semarang, Minggu (31/5/2026) pagi.

Kegiatan olahraga bertajuk lari santai tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat sekaligus mempererat kebersamaan.

Sejak pagi, kawasan Balai Kota telah dipadati peserta dari berbagai wilayah di Semarang dan sekitarnya.

Tidak hanya komunitas lari, kegiatan ini juga diikuti keluarga, pelajar, pekerja, hingga masyarakat umum yang memanfaatkan akhir pekan dengan aktivitas olahraga.

Regional Group Head PT XL Smart area Jawa Tengah, Joseph Marthinus Gultom, mengatakan konsep fun run dipilih karena olahraga lari saat ini semakin diminati masyarakat dan dapat diikuti berbagai kelompok usia.

“Segmen Smartfren adalah masyarakat luas. Lari menjadi olahraga yang bisa diikuti keluarga, orang tua, anak-anak, sehingga semua kalangan bisa ikut berpartisipasi. Karena itu kami menghadirkan Fun Run yang tidak hanya berfokus pada olahraga, tetapi juga hiburan dan kebersamaan,” ujar Joseph.

Menurutnya, Smartfren Fun Run tidak hanya menjadi agenda olahraga semata, melainkan juga sarana membangun interaksi sosial dan semangat positif di tengah masyarakat melalui aktivitas fisik yang menyenangkan.

Semarang menjadi kota ke-42 dalam rangkaian penyelenggaraan Smartfren Fun Run yang digelar di sejumlah daerah di Indonesia.

Tingginya partisipasi masyarakat disebut menunjukkan antusiasme terhadap kegiatan olahraga berbasis komunitas masih cukup besar.

Joseph menambahkan, usai penyelenggaraan di Semarang, rangkaian kegiatan akan berlanjut ke sejumlah kota di Pulau Kalimantan sebelum ditutup melalui acara puncak di Jakarta dengan target sekitar 7.500 peserta.

Program Smartfren Fun Run sendiri telah berlangsung sejak 2023 dan rutin menghadirkan konsep berbeda setiap tahunnya, termasuk desain jersey khusus yang menjadi identitas acara.

Selain lari santai, panitia juga menghadirkan sejumlah hiburan untuk peserta, seperti fun games, sesi zumba bersama, hingga pembagian doorprize.

Berbagai aktivitas tersebut menambah semarak suasana acara yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme.

Melalui kegiatan ini, Smartfren berharap dapat terus mendorong masyarakat menerapkan pola hidup aktif dan sehat, sekaligus menciptakan ruang interaksi positif yang dapat dinikmati berbagai kalangan.***

Kotta Hotel Semarang Hadirkan “Local Twist” Seasonal Menu dari Cemil Dining & Kobis Brew

0

SEMARANG (Pertamanews.id) – Kotta Hotel Semarang menghadirkan promo kuliner musiman bertajuk “Local Twist” pada Mei 2026 melalui kolaborasi antara Cemil Dining dan Kobi’s Brew. Program ini menawarkan beragam menu dengan sentuhan cita rasa lokal yang dipadukan dengan konsep modern untuk memberikan pengalaman bersantap yang berbeda bagi para pengunjung.

Promo Local Twist mengusung konsep comfort food dengan sentuhan khas Indonesia yang dikemas secara kreatif. Melalui program ini, Kotta Hotel Semarang menghadirkan pilihan makanan dan minuman yang menggabungkan cita rasa lokal dengan teknik penyajian modern.

Beberapa menu spesial yang disajikan di Cemil Dining antara lain Cheesy Beef Rendang Quesadillas, perpaduan rendang cincang dan keju mozzarella dalam tortilla panggang. Selain itu terdapat Aglio e Olio Dori Matah yang memadukan spaghetti aglio e olio dengan sambal matah dan fillet dori crispy.

Menu lainnya adalah Ayam Bakar Benedict, interpretasi lokal dari eggs benedict yang disajikan dengan ayam bakar, poached egg, dan saus hollandaise. Untuk hidangan penutup, tersedia Tape Aroma Roll with Ice Cream yang memadukan tape, gula aren, dan es krim dalam sajian manis khas Nusantara.

Sementara itu, Kobi’s Brew menghadirkan dua pilihan minuman musiman, yaitu Red Amber dengan karakter rasa manis ringan dan menyegarkan, serta Choco Orange Cloud Latte yang mengombinasikan espresso creamy dengan foam jeruk yang memberikan cita rasa unik.

Chef Kotta Hospitality Management, Hary, mengatakan bahwa Local Twist dirancang untuk menghadirkan pengalaman kuliner yang dekat dengan selera masyarakat Indonesia tanpa meninggalkan karakter modern yang menjadi ciri khas Kotta Hotel Semarang.

“Lewat Local Twist, kami ingin menghadirkan menu yang terasa dekat dengan selera lokal namun tetap memiliki karakter modern khas Kotta Hotel. Kami ingin experience makan dan ngopi di sini terasa hangat, menyenangkan, dan berkesan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari kawasan Kota Lama Semarang, Cemil Dining dan Kobi’s Brew terus menghadirkan ruang berkumpul bagi masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari pertemuan santai, bekerja, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat.

Menu musiman Local Twist kini telah tersedia untuk waktu terbatas dan dapat dinikmati langsung di Cemil Dining maupun Kobi’s Brew, Kotta Hotel Semarang. Melalui program ini, Kotta Hotel Semarang kembali menghadirkan inovasi kuliner yang mengangkat kekayaan rasa lokal dalam konsep yang relevan dengan gaya hidup masyarakat saat ini.***